Saturday, 28 January 2017

Menjadi Islam Tak Perlu Jadi Arab

24 Januari 2017, Jam 1.00 dini hari, Kota Pekalongan sudah mulai sepi. Hanya bus-bus besar antarprovinsi yang sesekali datang memecah kesunyian. Orang-orang yang sudah lelah bekerja sepanjang hari sudah istirahat di rumah masih-masing.

Namun, di sudut kota itu ada sekelompok orang yang masih jagongan. Di sebuah rumah lapang, puluhan orang melingkar mengelilingi seorang laki-laki keturunan Arab umur tujuh puluhan. Hanya pakai kaos oblong bercelana panjang. Tak ada penutup kepala. Rambutnya tampak dicat merah. Tapi, dia menjadi sentral pembicaraan.

Laki-laki itu adalah Habib Luthfi ibn Yahya. Ia murah senyum. Ramah terhadap para tamu yang datang. Rumahnya tak pernah sepi didatangi umat. Banyak orang mengadu, mulai soal-soal pribadi hingga soal kemasyarakatan secara umum. Ada yang keluarganya sakit lalu minta barokah ke beliau. Ada yang bertanya soal organisasi radikal yang lagi marak belakangan. Ada juga yang bertanya soal maqam-maqam spiritual dalam mistisisme Islam.

Tak ada tema khusus. Tema pembicaraan meloncat-loncat dari satu ke topik ke topik lain, tergantung pada masalah yang diajukan tamu-tamu yang datang silih berganti. Saya dan sejumlah teman yang datang malam itu juga menyumbang tema yang lain lagi, yaitu soal sejarah masuknya Islam ke Nusantara.

Gayung bersambut. Habib Luthfi ternyata memiliki pengetahuan sejarah yang luar biasa. Dia bicara masuknya Islam ke Afrika Utara, Yaman, India, China hingga mengalir jauh ke Nusantara. Lalu masuk ke peran Wali Songo dalam pengisalaman Tanah Jawa. Siapa keturunan mereka sekarang. Kenapa juga ada Nahdhatul Ulama.

Paparan Habib Luthfi menjadi sangat berarti hingga kita mengerti kenapa kita harus berjuang melalui organisasi. Salah satunya melalui organisasi Nahdhatul Ulama. Kata Habib Luthfi, NU berguna salah satunya untuk merawat tradisi. Sebab, menjadi Islam tak perlu menjadi Arab. Itu sebabnya, orang Arab di Indonesia zaman dulu berhasil berdialektika dengan budaya Nusantara.

Pembicaraan kian dalam. Tapi sebagai tamu, kami harus tahu diri. Jam sudah menunjukkan jam 3.15 dini hari. Sementara jam 4 pagi, Habib Luthfi sudah harus pergi. Malam itu beliau tidak tidur. Atau, malam-malam beliau memang demikian; melayani umat hingga dini hari.
Semoga sehat selalu Bib Luthfi.

Salam,

Abdul Moqsith Ghazali

0 comments