Thursday, 9 February 2017

Catat! Beda Guru, Beda Kebijaksanaan

Pertama kali jadi Ayah, sering panik saat "jagoanku" sakit. Dua tahun pertama pilihannya dokter Z, dokter spesialis anak. Usianya belum lima puluh, wajahnya kecut dan omongannya saat memberi advice sangat ketus. Saat terkena diare,  dokter Z memberi advice "Ini harus dirawat, kalau tidak mau terserah saya tidak tanggung jawab".
Doc. Pesantren

Kata-kata ketus dan sinis ini dua kali membuat kami ketar-ketir dan khawatir, akhirnya menginap di RS selama beberapa hari. Kali ketiga dokter ini memberikan rekomendasi untuk rawat inap lagi, saya pindah ke dokter anak yang lain. Dokternya sudah sepuh, lebih sabar, telaten dan bijaksana dalam menghadapi pasien, terutama para orang tua yang parno karena anaknya sakit. Sebutlah namanya dokter M.

Dokter Z menyuruh rawat inap, tapi saat dibawa ke Dokter M mengatakan tidak ada penyakit serius. Sejak saat itu kami selalu ke dokter M. Kemarin "jagoanku" batuk-batuk dan panas, karena dokter M hari Sabtu tutup, aku bawa ke dokter umum. Karena tidak ada perkembangan, Senin Aku bawa lagi ke dokter M. Dengan bijaksana dua dari 4 obat yang diberikan dokter umum dihentikan pemakaiannya oleh dokter M. Kata dokter M, sanmol hanya berguna untuk anak dengan BB dibawah 12 Kg.

Satu ilmu, satu guru belum tentu ilmu dan kebijaksanaannya sama. Apalagi beda level dan bidang keilmuan seperti dokter umum dan spesialis atau pakar. Demikian juga dalam tradisi keulamaan. Bisa jadi punya koleksi data yang sama banyak nya, tapi berbeda dalam kearifan. Jangan heran kalau ada yang luwes dan ada yang kaku dalam penerapan. Bukan salah ilmunya, tapi karena pribadi-pribadinya. Karena berbeda dalam penghayatan, perbedaan latar belakang keluarga, pergaulan dan pengalaman.

Tan Malaka dan Sutan Syahrir boleh saja lebih banyak baca dari Soekarno, tapi bung Karno harus diakui lebih pandai dalam menerapkan data-data dikepalanya kedalam realita. Tan Malaka masih terjebak dalam pergumulan istilah seperti "Proletar, Borjuis, tuan tanah", sementara Soekarno sampai pada gagasan baru, marhaenisme.

Demikian juga dalam tradisi keulamaan, ada yang bergumul dan terjebak istilah-istilah dari berbagai episode sejarah Islam, ada juga yang melampaui sekat waktu dan tempat. Bukan soal Islamnya, tapi manusianya. Saya setuju dengan ucapan

الفكر الديني ليس فكرمقدس بل هو نتاءىج انساني 

Paham keagamaan bukan pemikiran yang suci tetapi hasil kreativitas manusia.

Dalam paham keagamaan ada subtansi ada juga hanya perangkat yang bisa berganti-ganti. Menutup aurat wajib, harus pake sarung dan baju Koko adalah buah pemikiran manusia. Bentuk, model dan warna soal kepantasan menurut etika sosial yang berkembang, sedangkan maksud aurat tidak berubah meskipun ada perbedaan pendapat wilayah tubuh mana saja yang tercakup didalamnya.

Para sufi lebih Arif dalam menerapkan Syariat Islam karena telah melampaui semua itu, disamping syariat lahir mereka sudah sampai pada mutiara terdalam dari syariat, yaitu hakikat. Badiuzaman Said Nursi menggambarkan level ulama menurut jangkauannya terhadap hakikat makna terdalam Al-Quran.

ان اللمعة الاعجازية لنوع الاخبارالغيبي الذي هو من انواع اعجاز القران كثيرة جدا  فى الايات القرانية وتابى الحصر فحصرها عند اهل الظاهر فى اربعبين او خمسين اية هو بسبب النظر الظاهري وهي فى الحقيقه اكثر من الالف فاحيانا يكون فى اية واحدة اخبار غيبي بخمسة اوجه
Aspek mukjizat tentang makna isyarat termasuk bagian dari sisi kemukjizatan Al-Quran. Tidak 
terhitung jumlahnya dalam ayat Al-Quran. Ulama dzahir menganggap ayat seperti ini hanya 40 atau 50 ayat karena jangkauan mereka hanya yang tampak dan kasat mata. Sebenarnya ada ribuan ayat, bahkan satu ayat sampai memiliki lima makna isyarat yang tidak tampak secara tekstual.
Maulana Habib Luthfi bin Yahya mengilustrasikan, ulama lahir baru main ditepi pantai, paling top menenggelamkan kaki di bibir pantai, tetapi para wali atau ulama batin, sudah snorkeling bahkan menyelam ke dasar pantai, menemukan keindahan dasar laut, fauna bahkan mutiara dan intan permata yang hanya ditemukan di dasar samudera.

Ulama ada levelnya. Tapi bukan hak kita membandingkan dan mempertentangkan antara mereka. Jadi tidak perlu bingung ketika melihat dinamika antara ulama yang satu dan yang lain.
Lalu kita ikut yang mana? Al-Quran memberi nasihat, untuk berdiri dibelakang barisan ulama yang tidak gila harta dan tahta.
اتبعوا من لا يسألكم أجرا
Ikuti mereka yang tidak mengharap upah dari kalian. (Qs: Yasin 22).
#SelfReminder

Ahmad Tsauri, dari status facebooknya

0 comments