Monday, 20 February 2017

Kasihan Sekali Wahabi Ejek Kiai NU

Seorang kiai pernah menasihati, "kalau berbisnis jangan hanya melihat untung, nanti akan gelap mata...". Padahal ucapan itu beliau ambil dari bahasa Arab, perkataan Imam Ali, Kiai memilih meninggalkan bahasa asli dan langsung pada subtansi, walaupun bagi orang lain nasihat itu menjadi tidak kelihatan keren.

اذا أبصرت العين الهوة عمى القلب عن العواقب
Dalam memberi nasihat para kiai lebih  memilih menyampaikan subtansi Ayat Al-Quran dan Hadits yang mudah dipahami daripada memverbalkannya secara leterlek, tujuannya agar tidak membuat 
komunikasi menjadi kaku dan rigid.
Doc. Islam Nusantara

Karena kesahajaan itu banyak yang memandang sebelah mata. Padahal banyak kiai yang bertaraf internasional. Jika dahulu ada Syeikh Abdurauf Singkil, Syeikh Abdul Samad Palimbani, Syeikh Dimyati Termas, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Yasin Padang dll, di periode ini juga banyak.
Sebut saja Kiai Sahal Mahfudz dalam bidang fikih, Romo Kiai Maimun khususnya bidang tafsir, Habib Luthfi bin Yahya dalam bidang ilmu nasab dan Thoriqoh, baik kemursyidan maupun sanadnya, Syeikh Husni Ginting dalam bidang hadis, dan banyak lagi tokoh sepuh maupun muda yang otoritas keilmuannya kaliber dunia.

Anak-anak muda alumni Timur Tengah khususnya Mekah Madinah, banyak yang memandang rendah pada para kiai. Karena mereka hanya melihat kesahajaan para kiai sehingga tidak bisa meneguk samudera ilmu para kiai. Misalnya mereka selalu menggemborkan "darurat Syirik", "indahnya hidup dijalan sunah", untuk mengejek keilmuan dan kiprah para kiai di tanah air.

Saya kira, tidak ada di dunia ini yang pemahaman tauhidnya se keren kiai-kiai NU. Seperti Al-Azhar, al-Zaitunah dan lembaga pendidikan Islam paling tua di dunia, NU menganut Madzhab akidah Asy'ariyah. Dalam manhaj/ madzhab Asy'ariyah tidak menyisakan ruang untuk kemusyrikan. Tauhid Ahl Hadis, yang menjawab pertanyaan tauhid hanya dengan mengutip Al-Quran dan hadis sangat tidak memadai, buktinya banyak sekali penyimpangan seperti Allah bersemayam di Arasy, Allah turun ke langit bumi dll.

Saya cerita kepada Maulana Habib Luthfi tentang ustadz terkenal yang mengatakan Allah turun ke bumi pada sepertiga malam, beliau menggetarkan badannya untuk menunjukkan sesuatu yang amat "menjijikkan".

Dengan tauhid, sifat 20 para ulama memformulasikan keesan (Wahdaniyat) Allah di dzat (Allah tidak berbilang dalam dzatnya), esa dalam sifatnya (Tidak ada yang menyamai dalam sifat-Nya) dan esa dalam af'alnya, apa yang diperbuat oleh-Nya (Wahdaniyat fil af'al).

Wahdaniyat dalam dzat Allah SWT bukan hanya tidak mempunyai sekutu tetapi dzatnya tidak berbilang, tidak berorgan. Wahdaniyat fi sifat artinya sifat-sifat kesempurnaan Allah bukan sesuatu yang terpisah dalam dzatnya, seperti ilmu kita yang terus bertambah, Allah SWT tidak demikian.
Dan Wahdaniyat dalam af'alNya, apa yang dikerjakanNya. Untuk merasionalkan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi diluar kehendak dan kekuasaannya, Imam Asy'ari mempopulerkan konsep kasab. 

Sebuah kata yang banyak disebut dalam Al-Quran.
Teori Kasab menjembatani antara kekuasaan dan kehendak Allah yang absolut dan kebebasan manusia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, menengahi antara Jabariyah dan Qadariyah, antara determinasi Allah dan Free Wil manusia.

وهذا ما قرره الأشعري عن الكسب في"اللمع"ص40 :هو أن الفعل يقع من العبد بقوة محدثة(أي قدرة محدثة)
وقرر الأشاعرة أن هذه القدرة الحادثة ما هي إلا مقارنة المقدور لها، وليس العبد محدثا لأفعاله ولا موجودا له، فاعتبروا مجرد اقتران القدرة الحادثة بالمقدور بمثابة تأثيرها فيه وسموا ذلك كسبا
بمعنى أن الله يهب الإنسان قدرة عند مباشرته الفعل يحدث الله الفعل عندها لا بها، فيكون الفعل الواقع من العبد بلا تأثير لها في وجود الفعل، لأن الفعل يقع بقدرة الله وحدها..فالخلق والإيجاد والإبداع من الله تعالى، بمعنى أن المفعول مخلوق لله تعالى إلا أن للعبد تدخلا فيه من جهة الاختيار والميول ومقارنة الفعل لقدرته الحادثة التي لا تأثير لها، ويسمون ذلك كسبا
لذلك عرفوا القدرة الحادثة التي عنها الكسب بأنها:"عرض مقارن للفعل، يخلقه الله سبحانه وتعالى عند قصد الاكتساب، بعد سلامة الآلات و الأسباب" انظر:[هداية المريد لجوهرة التوحيد لبرهان الدين إبراهيم اللقاني..]

"Perbuatan yang keluar dari manusia bersumber dari kekuatan baru [muhdasah] (lawan dari qodim: kekal). Tidak lain seorang hamba dijadikan mampu untuk melakukan suatu perbuatan. Seorang hamba tidak menciptakan perbuatannya sendiri. Allah SWT memberi manusia kekuatan ketika melakukan sesuatu perbuatan. Jadi perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia sebenarnya tidak berdampak langsung terhadap objek, karena objek terkena dampak perbuatan Allah saja yang dititipkan pada manusia saat melakukannya. Yang menciptakan perbuatannya Allah, manusia hanya punya ruang untuk memilih, kecenderungan dan menyertai dengan perbuatan baru yang Allah 
berikan."
Teori Kasab dalam tauhid setara dengan rumitnya teori Relativitas Einstein dalam Fisika. Konsep ini sangat rumit karena ini adalah dimensi Dzauqiyah atau Ihsan. Rasa yang dibahasakan. Sama dengan rumitnya menjelaskan manisnya apel, rasa kecut yang ada pada madu atau nikmatnya bersenggama pada yang belum melakukan. 

Oleh sebab itu yang bisa benar-benar memahami konsep ini adalah para ulama sufi yang menyempurnakan pendekatan tauhid, dengan Wujdan, olah batin dan riyadhah.
Jadi tidak perlu menceramahi para kiai, dan santri soal tauhid, soal syirik. Karena level Anda dibanding mereka seperti anak TK dihadapan Profesor yang diakui kepakarannya oleh para ahli dibidangnya.

Kalau melihat perilaku Wahabi yang begitu PD, kadang-kadang merasa geli, kasihan campur enek.
(Ahmad Tsauri di facebook)

0 comments