Monday, 27 February 2017

Pengakuan Pejuang Khilafah

Seperti anak Inggris umumnya, semasa sekolah dasar Ed Husain berkenalan dengan karya sastra, musik, seni dan lain-lain. Ia juga diasuh guru-guru yang luar biasa perhatian. Ayahnya adalah pengikut tarekat yang dipimpin oleh salah seorang dari lima mursyid besar dan pengelola ratusan pesantren di Bangladesh dan India. Ia sering mengikuti kegiatan keagamaan seperti pembacaan maulid nabi, semaan Quran, dan lain-lain yang digelar kelompok tarekat tersebut. Pandangan keislaman keluarganya, bersifat terbuka, moderat dan sangat berorientasi pada Islam sebagai kultur.
Islam Nusantara

Pada masa remaja, suatu belokan penting terjadi dalam hidupnya: ia direkrut dan bergabung dengan kelompok keagamaan yang bercorak ideologis dan kemudian Hizbut Tahrir (HT). Kedua orang tua Ed sangat terkejut dengan perkembangan sang anak, yang tiba-tiba menjadi keras dan bersikap memusuhi, bukan saja terhadap orang bukan-Islam, tetapi juga keluarga sendiri. Sang anak telah menjelma menjadi seorang aktivis yang militan dan pioner dalam perekrutan anak muda. Ia memiliki pandangan bahwa kedua orang tua dan seluruh keluarganya pun perlu diislamkan kembali. Ia menjadi ‘anak hilang’ dari keluarga.

Pada suatu hari terjadi pertengkaran dengan sekelompok mahasiswa kulit hitam. Seorang temannya kemudian mengeluarkan belati dan membunuh salah seorang mahasiswa tersebut. Ed menyaksikan peristiwa yang mengenaskan itu dari balik jendela kaca. Ia menyesalkan tindakan tersebut dan menganggapnya tidak seharusnya dilakukan. Penyesalan ini kemudian diiringi refleksi lebih luas: bukankah kekerasan memang menjadi metode, jadi apa yang salah?

Ia mulai kehilangan kepercayaan dan keyakinan pada HT dan gerakan Islam politik secara umum. Apalagi ia merasa kering secara spiritual karena, entah itu pembacaan maulid, semaan Quran dan riyadhah-riyadhah lainnya dianggap sebagai bidah dan tidak penting. Ia mengalami krisis, dan mencoba melakukan pencarian dari awal lagi. Ia mengenang guru-gurunya yang luhur budi semasa SD dan juga ajaran cinta kasih Muhammad semasa kecil. Ia kemudian keluar dari gerakan khilafah dan menyadari bahwa ini adalah jalan perjuangan yang melenceng.

Proses keluar ini tidak mudah. Secara fisik ia memang telah keluar, tetapi tidak secara mental. Cuci otaknya memang hampir sempurna. Gagasan Islam politik sudah seperti kanker di dalam kepalanya. Lama ia tidak bisa tenang jika bertemu dengan seorang yang bukan-Muslim karena memandang mereka dengan optik yang campur aduk antara rendah diri dan percaya diri sebagai paling hebat dan paling benar, antara was-was, ketakutan dan keberanian. Tapi ikhtiar pencarian yang sungguh-sungguh, dan berkat dukungan dan doa dari orang tua dan keluarganya, ia berhasil ‘keluar’ dari pengaruh tersebut.

Kini ia menjadi penganjur Islam yang ramah, bukan yang marah, Islam yang teduh, bukan yang riuh dan gemuruh, Islam yang menjadi rahmat, bukan laknat, bagi semesta. Kita bisa belajar mengapa seorang anak muda bisa bergabung dengan kelompok garis keras dan bagaimana ia bisa keluar. (Hairus Salim)

0 comments