Saturday, 25 February 2017

Umat Seperti Ini Mudah Dibodohi

Waktu mondok saya berlangganan koran, khusus Minggu, karena hari itu edisi sastra, memuat resensi buku, cerpen. Yang paling saya suka tulisan kolom, yang paling tidak saya suka puisi.

Saya berlangganan tiga koran, Jawa Pos, Surya dan Sindo. Kolom yang bagus di Jawa pos dan Surya, Sindo memuat tulisan Arswendo, saya tidak enjoy logika tulisnya. Di Jawa Pos dan Surya tulisan refleksi disampaikan secara jenaka dan seringkali penulis menertawakan dirinya sendiri.
Misalnya, si penulis menceritakan pengalaman dia pertama kami menyetir mobil mewah milik bosnya, Dahlan Iskan, dia tidak dapat menikmati kemewahan mobil itu, karena sepanjang perjalanan sibuk menghitung hartanya, rumah, kebun dan sawah dikampungnya tidak cukup untuk membiayai servis  jika dijalan mobilnya lecet kesenggol beca.
Doc. Salam Santri

Dari tulisan-tulisan itu, saya memahami bahwa imajinasi hanya bisa lahir dari orang-orang yang mengapresiasi dan menghormati keberagaman, diversity. Kata CEO GE (General Electrik) berimajinasi dilakukan dengan menggunakan pertanyaan, why not, dan what if.
Membaca, apa saja, terutama buku untuk mengkoneksikan berbagai gagasan, sehingga terbuka kemungkinan baru, pemahaman baru. Membaca bukan untuk mencari pembenaran keyakinan lama yang semakin berkarat. Membaca tidak berarti apa-apa jika hanya mengamini, tidak disertai mempertanyakan.

Lalu bagaimana jika ustadz-ustadz melarang muridnya membaca buku terbitan Mizan hanya karena menerbitkan buku dari berbagai madzhab Islam, termasuk Syiah.

Melarang membaca buku yang ditulis oleh firqah (aliran Islam) yang berbeda dengan kelompoknya. Melarang membaca buku yang ditulis oleh orang yang berbeda dengan agama yang dianutnya.
Bahkan tidak mau membuka Stand buku didekat Stand lain yang menjual buku penerbit yang berbeda dengan buku yang dijualnya.

Separah inilah umat Islam. Padahal terbentuknya ilmu-ilmu Islam 90% karena pengaruh non muslim pada abad 2 hingga abad 4 H. Lihat saja keterangan berikut,

...وكل ما هنالك ان الرجل وجد فى عصر تعوزه الدقة فى التعبير لانه قد عرف من تاريخ وفاته انه وجد فى اواخر القرن الاول الهجري واواءىل الثاني ولم تكن الفنون المستحدثه عند المسلمين قد تركزت بعد ولا صبغت بالصبغة العلمية الدقيقة
Terjemah bebas " banyak yang salah faham terhadap aliran yang lahir di awal Islam (Jabariyah-
Qadariyah) khususnya pemikiran Jahm bin Sofwan, karena beliau hidup di era terbatasnya istilah teknis ilmiah. Beliau hidup pada akhir abad I dan awal abad II, pada saat ini berbagai disiplin ilmu baru (tafsir, fikih, Kalam, Ushul fikih dll) belum terbentuk dan belum ada istilah yang detail."
Inilah gambaran Islam sebelum bersinggungan dengan filsafat Yunani, produk non muslim.

Ustadz membawa umat ke masa jahiliah, bukan 3 abad emas seperti digembor-gemborkannya. Jadi wajar kalau umat seperti ini mudah dibodohi oleh ustadz dan pemuka agama.

Dan jangan heran kalau hanya karena berbeda pilihan politik mereka tidak mau menshalatkan muslim lainnya. (Ahmad Tsauri)

0 comments