Thursday, 30 March 2017

Bisakah Islam Nusantara didengar di Eropa

Bisakah "Islam Nusantara" didengar di Eropa alias Barat?

Ini secuil catatan ringkas, dan ditulis cepat dari status FB, mengenai kesanku setelah mengunjungi Amsterdam awal pekan ini untuk menghadiri konferensi yang diselenggarakan kawan-kawan NU Belanda. Secara umum saya sangat menghargai usaha keras dari kawan-kawan, yang mau membagi waktu berharganya sebagai peneliti dan mahasiswa doktoral yang, seperti kita ketahui, sangat sulit jika harus bekerja sampingan di luar tugas pokoknya itu. Setelah dua tahun lalu menyelenggarakan temu ilmiah serupa, meski dengan lingkup lebih kecil, kali ini NU Belanda punya ambisi yang lebih serius dan patut didukung. Tepuk tangan! Saya menyukai jenis kegiatan yang bersifat terbuka, tidak seperti beberapa kegiatan kader partai dakwah dari tanah air yang sering sembunyi-sembunyi jika mengadakan kegiatan di Istanbul atau Eropa. Saya pikir ciri keterbukaan ini menandakan, setidaknya, 'tidak ada agenda lain' kecuali untuk kemaslahatan bangsa, umat muslim, dan manusia pada umumnya--tridimensi ukhuwah yang menjadi tali-temali berkelindan. 

Amma bakdu: maka jawaban singkat dari pertanyaan di atas ialah: bisa, tapi belum berarti. Mengapa? Saya mengiyakan Thijl Sunier, guru besar dari Vrije Universiteit Amsterdam. Sambil menyajikan statistik dalam kuliah umumnya, Thijl menelisik bahwa jumlah warga Indonesia di Belanda tidak cukup mewakili statistika. Itupun, kita tidak tahu, seberapa banyak mereka yang Muslim. Singkatnya, jumlah warga kita di Belanda amat kecil ketimbang imigran lainnya dari Maroko dan Turki, misalnya. Betul: hanya Belanda, negeri bekas penjajah yang jumlah penduduk imigran dari bekas negeri jajahannya -- dan kini negeri Muslim terbesar dilihat dari jumlah populasi -- amat sedikit. 

Situasi abad ke-19 dan abad ke-20 serta diteruskan hingga konfrontasi era revolusi kemerdekaan dan dekolonisasi era 1950-an mungkin memberikan jawaban yang harus digali lebih dalam lagi untuk mengetahui sebab-musabab pastinya. Paris dan London, mantan dua kota ibu (metropolis) kolonialisme, menyajikan nuansa yang berbeda: mereka memiliki jumlah penduduk Muslim yang lumayan dari negeri-negeri bekas jajahannya. Kecilnya jumlah penduduk Indonesia di Belanda, dan mungkin juga irisan muslimnya, karena itu, sulit menjadi kekuatan wacana dan gerakan lain untuk mengimbangi dialog publik yang hangat tahun-tahun menggelisahkan belakangan ini, yakni dialog mengenai Islam di Eropa. Masalah-masalah muncul di seantero Eropa karena ada gesekan di antara penduduk muslim imigran, asal negeri Timur Tengah. Jika penduduk imigran muslim Indonesia melimpah-ruah dan membentuk ceruk kehidupan sosial yang baik di Belanda misalnya, mungkin persoalannya lain. Maka, posisi Muslim Indonesia masih lemah dan pinggiran, sama pinggirannya dengan penduduk Muslim lokal di Eropa yang terdapat di Eropa Timur dan Balkan, seperti Bosnia-Herzegovina. 

Ini terkait juga dengan hal yang sering digemborkan beberapa tokoh politik kita mengenai diaspora Indonesia dewasa ini. Kalau mau dibandingkan lagi, mengapa diaspora Muslim Indonesia secuil, hal itu bisa dilihat setidaknya sejak periode Perang Dingin. Selama perang ini berlangsung, gejolak politik dalam negeri kita skalanya sangat besar tapi dampaknya diasporanya minim. Mereka yang berdiaspora, kita maklumi, adalah korban politik 65, dan tidak mewakili 'identitas keislaman' yang mewakili porsi besar. Selama era 70-an, 80-an, hingga Invasi Irak 2003, konflik di tanah air tidak menyebabkan 'bedol masyarakat' yang maha luas seperti kasus Srebrenica. Beda dengan belahan bumi lain di Timteng masa itu, mereka harus lari terbirit-birit dari peluru dan ancaman kematian yang setiap saat mengintai. Ini yang menyebabkan, jumlah penduduk muslim kita di Australia, negeri terdekat yang memungkinkan untuk bermigrasi, juga tidak sebanyak jumlah imigran Libanon, Afghanistan, dll. Meski sama seperti situasi di Belanda, diaspora Muslim Indonesia di Australia bisa terus dipupuk dengan baik karena kedekatan geografis dan kerjasama strategis antarmasyarakat dan antarlembaga pemerintahan. Kendati, hal ini pun belum menjadi patokan apakah "genre" dari langgam Islam Nusantara bisa mendapatkan tempat dalam wicara sosial di Australia--lagi-lagi karena porsi penduduk muslim asal Indonesia di sana belum mencukupi porsinya (setidaknya ini kesan kasar saya).

Soal ragam cabang istimewa NU yang berjamuran di mana-mana, seperti halnya organisasi pelajar/kemahasiswaan Indonesia di LN, sama saja orientasinya lebih ke dalam. Dalam arti, belum ada strategi umum untuk merangkul anggota non-Indonesia secara luas. Barangkali ini terlalu muluk-muluk saat ini, di saat penataan diri kita dari sindrom rasa inferior jangankan di hadapan Barat, di hadapan bangsa-bangsa dari Timteng juga demikian. Ditambah lagi dengan kecenderungan umum dari masyarakat kita: kembali ke DN dan 'berbakti untuk nusa dan bangsa' sangat kuat di antara para aktivis, cerdik-cendekia, dan sejenisnya. Tapi saya tidak sedang membuhul mati-mati harapan kita bersama. Saya hanya mau mengajak berpikir realistis. Hal-hal ini setidaknya membuncahkan pikiran saya sebagai salah seorang kader biasa di Berlin. 

Tentu saja segala macam konferensi, sikap suara atas situasi di tanah air (dan keadaan global umumnya), dan sejenisnya penting terus diadakan. Yang tidak kalah diprioritaskan ialah mendawamkan tradisi keislaman kita di LN yang, menurut saya, harus digerakkan tanpa perlu berkoar-koar. Kadang memang menjengkelkan mendengarkan fitnah dan hoax yang menyeret kita dalam pusaran yang tidak jelas. Sesekali perlu ditanggapi jika merugikan kemaslahatan. 

Pada akhirnya, saya ingin menimbang satu hal: Islam Nusantara akan bisa didengar secara mengglobal justru jika dimulai dari keindonesiaan dan keasiatenggaraan dulu. Seberapa jauh Islam Nusantara ini jadi penggerak masalah-masalah bukan saja keadaban tetapi juga keadilan sosial? Seberapa jauh menimbang non-Jawa dalam wacana dan gerak Islam Nusantara? Sejuah mana menimbang hal-hal yang (dianggap) marjinal dalam arus gerakan kita? Seberapa jauh NU mendatangi langsung Aung San Suu Kyi? Deretan pertanyaan lainnya ada di benak anda. Sebuah tradisi yang kuat dan mengakar serta memberikan dampak luas bagi situasi di sekelilingnya, di seluruh nusantara/tanah jawi, yang lalu akan didengar. Selamat memeriahkan bulan Rajab! Takbir!

Zacky Umam

0 comments