Friday, 7 April 2017

Indonesia Ramah Muslim, Benarkah

Paradoks terbesar yang menjangkiti umat manusia saat ini adalah mimpi mendapatkan perdamaian melalui jalan peperangan. Padahal damai dan perang adalah dua kutub berbeda. Damai berhubungan dengan kelembutan, kasih sayang, dan menghargai. Sementara perang terkait dengan kekerasan, permusuhan, dan merendahkan. Keduanya tidak mungkin disatukan. Jika pun dipaksakan, mustahil memperoleh tujuan yang diinginkan. Akan selalu terjadi pertentangan antar keduanya.

Upaya menciptakan perdamaian dengan kekerasan justru menciptakan konflik baru. Jangan lupa, perdamaian yang dibangun atas dasar kekerasan tidak akan berlangsung lama dan cenderung semu. Sebab perdamaian yang tercipta bukan didasari keinginan bersama dan kesukarelaan. Melainkan ada satu pihak yang menekan dan menaklukan pihak lain.  
Doc. Islam Nusantara

Sayangnya, hal ini yang belakangan terlihat di sekeliling kita. Penyakit kekerasan menyebar cepat layaknya wabah kolera. Jargon kekerasan diumbar diberbagai tempat. Manusia makin dahaga dengan kebencian. Manusia berubah menjadi monster untuk sesama. Bukan monster Beast seperti karangan Madame de Villeneuv yang buruk fisik tetapi lembut hati, melainkan monster yang suka “memakan” sesama.

Dalam bahasa Hobbes disebut homo homini lupus  (manusia adalah serigala bagi manusia lain). Agama sejatinya bisa dilirik sebagai instrumen untuk menciptakan perdamaian di muka bumi. Agama memberikan pedoman manusia bertingkah laku yang baik dan benar.

Tujuan diturunkan agama bagi para pengikutnya adalah kebahagiaan. Baik di dunia maupun akherat. Tetapi tantangan besar yang dihadapi, agama sering ditunggangi untuk kepentingan pragmatis. Dalam hal ini, agama mirip kuda troya yang dibuat pasukan Yunani: digunakan untuk mengelabui dan menyerang pihak lain.

Masalah menjadi semakin parah saat kaum beriman tidak sadar agama dan keyakinannya ditunggangi untuk kepentingan kelompok tertentu. Bahkan ada yang menganggap tindakan tersebut sebagai perjuangan untuk mempertahankan eksistensi agama. Hal ini terjadi karena kekurangpahaman dan rendahnya daya kritis seseorang saat simbol-simbol agama dimainkan.

Contoh yang bisa dikemukakan, masifnya narasi “perang” dan “jihad” di sekitar kita. Dua terminologi tersebut secara langsung menggambarkan ada pihak lain yang harus diperangi dan dilawan. Pihak lain dipandang sebagai lawan. Sementara mereka yang menggunakannya identik dengan pejuang.

Tidak bisa dipungkiri, dalam Islam memang ada doktrin tentang perang dan jihad. Tetapi harus dimaknai secara lengkap. Tidak boleh hanya mengambil ayat tentang perang dan meninggalkan ayat tentang damai. Alquran adalah satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi.

Kajian tentang perang dan jihad dalam Islam pun tidak hitam putih. Ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum mengambil kesimpulan. Selain itu, para ulama pun banyak berbeda pendapat. Artinya isu ini perlu terus-menerus dikaji dan disesuaikan dengan konteks zamannya.

Dalam lingkup Indonesia, masih ada pihak yang meragukan bahwa negara ini layak ditempati oleh kaum Muslim. Bagi kelompok ini, selama hukum Islam belum ditegakan, maka belum bisa disebut sebagai dar al-Islam. Menurut Majid Khadduri (2002: 126), ada  ahli yang berpendapat kriteria dar al-Islam tidak terlalu sulit. Selama umat Islam dapat menjalankan kewajiban agamanya secara bebas, maka wilayah tersebut bisa disebut dar al-Islam. Petunjuk yang paling mudah, apakah orang-orang yang terbiasa sholat pada hari Jumat dan Ied akan tetap bisa melakukannya di wilayah tersebut.

Jika pendapat ini yang digunakan, Indonesia sangat layak menjadi rumah bagi kaum Muslim. Meskipun aturan yang diterapkan tidak berdasarkan agama secara langsung, tetapi praktiknya justru menghormati seluruh agama yang ada. Muslim di Indonesia bebas melaksanakan sholat sholat Jumat, Ied, dan ibadah-ibadah lainnya. Tidak ada larangan sama sekali. Pesantren menjamur di berbagai tempat. Pengajian rutin dilaksanakan di mushola dan masjid. Hampir setiap perayaan agama Islam dihormati dalam bentuk tanggal merah.

Beragam kenikmatan yang diperoleh kaum Muslim di negara ini seharusnya menjadikan kita semakin cinta dan bangga dengan Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan propaganda bahwa negara ini tidak ramah Muslim, orang Islam dianiaya di negeri sendiri, ada kekuatan yang ingin melemahkan risalah rasulullah, dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar lainnya.

Rachmanto
Menyelesaikan studi master di Center for Religious and Cross-cultural
Studies
, Sekolah Pascasarjana UGM. Jenjang  S1 pada Fakultas Filsafat UGM