Tuesday, 4 April 2017

Pemikiran Zakir Naik Bukan Hal Baru

Setiap zaman meminta jenis, gaya dan mazhab pemikirannya sendiri. Li kulli zamanin mazhabuhu al-khass. لكل زمان مذهبه الخاص .

Di era politik identitas yg menjadi gejala global sekarang, gaya pemikiran seperti Zakir Naik memang paling laku dan laris manis. Sebab gaya pemikiran ini lebih memberikan dan menjamin "sense of identity".

Anda serang seperti apapun, gaya pemikiran ini akan tetap merajalela. Sebab pasar membutuhkannya. Anda ndak bisa melawan hukum pasar.

Yang bisa kita lakukan adalah mencari dan membangun ceruk pasar lain untuk memasarkan gaya pemikiran yg berbeda.

Do I sound defeatist? 
Gaya pemikiran Zakir Naik bukan hal baru dlm sejarah pemikiran Islam. Di era klasik Islam (kira2 abad ke-8 hingga abad ke-12), gaya pemikiran polemis ala Zakir Naik ini sangat populer. Ada penjelasan historisnya saat itu. Ekspansi Islam ke wilayah di luar jazirah Arab (seperti kawasan Persia dan Syam yg sangat dipengaruhi warisan peradaban Greko-Roman) mempertemukan umat Islam dengan agama2 dan mazhab pemikiran lain.

Menghadapi situasi semacam itu, ada kebutuhan yg besar pada umat saat itu untuk corak pemikiran teologis tertentu. Yakni, wacana teologis yg apologetik (الخطابات اللاهوتية الدفاعية). Wacana semacam ini dibutuhkan untuk membela doktrin Islam dari "perceived threat" yg datang dari agama dan mazhab pemikiran lain.

Situasi serupa muncul lagi di abad ke-14, saat Perang Salib berkecamuk, dan melahirkan corak teologi apologetik lain di tangan ulama terkenal, Ibn Taimiyyah (w. 1328) yg menulis kitab khusus untuk mengkritik teologi Kristen: الجواب الصحيح لمن بدل دين المسيح (Al-Jawab al-Sahih Li Man Baddala Din al-Masih [Jawaban yang Rasional atas Mereka yang Mendistorsikan Agama Yesus Kristus]).
Tradisi pemikiran apologetik sangat dalam akarnya di dalam tradisi intelektual Islam sejak awal. Inilah yg menjadi tantangan besar bagi generasi baru sarjana Islam yg hendak membangun corak wacana yg lain, yaitu wacana dialogis-apresiatif (الخطابات الحوارية والتفاهمية).
Sekian.
Ulil Abshar Abdalla

0 comments