Monday, 3 April 2017

Zakir Naik adalah Tren, Tapi...


Oleh Hairus Salim



Zakir Naik adalah trend. Yang namanya trend, kecenderungan, hanya sesaat. Napasnya tdk akan panjang. Sebagai trend, yang ditawarkan adalah kebaruan tanpa kedalaman, sensasi tanpa isi, dan berbagai spekulasi. Yang diberikan kehebohan, bukan keheningan, keriuhan bukan ketenangan.
Mmg aneh bhw dalam hal "beragama" pun ada yang namanya trend, seperti sebuah model busana atau selera musik saja. Tapi itulah nyatanya.


Di dalam bagiannya, agama memang sebuah arena kontestasi. Dan Zakir dengan sadar memasuki gelanggang itu dan memenuhi hasrat mereka yg memang memandang agama sbg arena kontestasi juga. Ia menawarkan rasa percaya diri dan kepal serta tepuk tangan. Persepsi agama sbg sebuah pertandingan mmg membutuhkan hal2 itu. Tapi bagi mereka yg memandang agama sbg suatu sarana pengayaan batin menuju Tuhan, Zakir adalah suatu ironi. Suatu paradoks. Zakir mmg menjadi suatu yg mencemaskan.

Mereka yg pernah belajar dialog antaragama, akan tahu bahwa dialog yang dijajakan Zakir hanyalah pengulangan dialog lama yang penuh nada apologetik. Dialog ini menempatkan agama spt pertandingan gulat di mana ada kalah-menang. Yang salah berarti kalah dan kalah berarti salah. Dan hasil akhirnya tentu adalah "kamu benar dan akan menang." Bukan dialog yang dilakukan dengan rendah hati dan semangat saling belajar.

Sebagai suatu kecenderungan, maka wajar jika banyak dari kalangan anak muda atau mereka yg baru kenal agama yg menggemari, mengerumuni, dan mengelukannya. Dan ini tdk bisa dihalangi dan disalahkan krn menggemari Zakir bisa jadi bagian dari rute perjalanan keagamaan sebagian anak-anak muda tersebut. Agama adalah pencarian dan menggemari Zakir, APA boleh buat, menjadi bagian dari proses pencarian tsb. Ia akan menjadi halte dari sekian halte pendewasaaj spiritual mereka.

Waktu dan perenungan akan membentuk dan mungkin mengakhiri kecenderungan ini. Zakir tidak salah, tapi kelak mereka dan kita akan tahu cara berpikirnya mengenai agama, dan Islam khususnya, bukan skema masa depan yang sesuai dengan kondisi sosio-kultural Indonesia.

Semoga April yang bertukar terus antara panas dan penuh hujan, diselingi banjir dan longsor ini segera berakhir dan kita mengakhiri April dengan suasana tetap riang gembira.

0 comments