Wednesday, 24 May 2017

Kitab Kuning Benteng Radikalisme, Jawa Dasar Kesantunan

Batang (21/5/2017). Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menyaksikan sebagian kelompok Islam yang ingin menggantikan dasar Negara. Mereka ingin mengganti ideologi Negara ke sistem khilafah, mereka mengganggap bahwa pancasila, UUD, adalah sistem kafir dan thogut. Pemahaman ini muncul karena pemahaman keagamaan yang tekstual, dan kaku, serta mengarah pada radikalisme dan fundamentalisme.

Radikalisme dan fundamentalisme agama tidak sesuai dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, karena Indonesia adalah Negara yang terdiri dari suku, ras, budaya dan agama yang plural.
KH. Adib Rofiudin Izza, Mustasyar PBNU memotong pita di gerbang utama gedung

Pendidikan formal dan pesantren adalah jalan untuk memotong pemahaman keagamaan radikal dan fundamental, sejak pendidikan pertama hingga perguruan tinggi peserta didik harus ditanamkan pemahaman keagaman yang terbuka, menerima akan perbedaan.

KH. Muhammad Luthfi, selaku pengasuh pondok pesantren-MTs al-inaaroh menyatakan, pendidikan dan pesantren adalah media paling efektif untuk menanamkan paham keagamaan yang moderat. Karena ketika dasar itu sudah kuat, makan mereka tidak gampang untuk goyah ke pemahaman yang ekstrim.

“Pendidikan dan pesantren adalah kawah candradimuka dalam membentuk insan-insan yang moderat, dan mampu berfikir jernih,” katanya di sela-sela pembukaan Ponpes dan MTs al-inaaroh, Ahad (21/5/).

Menurutnya pesantren melalui kajian kitab kuningnya telah mengajarkan santri-santri yang terbiasa dengan perbedaan pendapat, mereka biasa disuguhkan dengan khilafiyah dalam fiqh. Sehingga tanpa sadar perbedaan adalah keniscayaan yang telah menjadi tradisi mereka, ketika mereka terjun di masyarakat umum mereka dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, hingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
KH. Adib Rofiudin Izza, Mustasyar PBNU


“Pesantren melalui kitab kuningnya adalah laborat pemikiran moderat, sudah menjadi kebiasaan santri ketika di pesantren berselisih pendapat dalam masalah hukum. Dalam konteks bernegara santri sudah final, NKRI adalah sebuah kesepakatan bulat ulama dan founding father,” tegasnya.
Program Kitab Kuning dan Bahasa Jawa

MTs Al-Inaaroh yang terletah di desa Brayo, Wonotunggal, Batang, didirikan untuk ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, melalui program unggulan kitab kuning dan bahasa jawa diharapkan akan mencetak cendekiawan muslim yang moderat dan santun.


Ubbadul Adzkiya’, selaku Humas Al-Inaaroh menyatakan bahwa dengan kitab kuning akan mengantarkan siswa menjadi insan yang mampu mempelajari Islam dengan mendalam, melalui kitab-kitab klasik khazanah ulama. Sehingga dengan kajian yang mendalam mereka tidak terjebak dalam radikalisme dan fundamentalisme. Sedangkan dengan bahasa akan menjadikan siswa-siswa yang santun, dapat menghormati orang yang lebih tua, dan mampu menjaga tradisi warisan nenek moyang.

“Kitab kuning adalah benteng pemahaman agama yang radikal dan fundamental, dan bahasa jawa adalah cara mendidik untuk menjadi masyarakat yang santun. Jangan sampai orang jawa hilang jawanya,” tutup Humas Al-Inaaroh.


Acara pembukaan Pondok Pesantren Al-Inaaroh, Ahad (21/5), dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat Muspika, MWC NU kecamatan Wonotunggal, dan ditutup dengan mauidhoh hasanah oleh KH. Adib Rofiudin Izza (Mustasyar PB NU) dilanjutkan pembukaan secara simbolis dengan bedug dan potong pita.


1 comments

4 October 2017 at 04:29 Delete comments

Bicara soal kitab kuning memang tak dapat dipisahkan dari pesantren, karena kitab kuning sebagai pondasi pesantren terutama pesantren pesantren salaf

Reply
avatar