Tuesday, 3 October 2017

Bagaimana Hukum Kredit dalam Fikih?

Jika dilakukan sensus atau survei terhadap masyarakat, apakah pernah membeli suatu barang dengan transaksi kredit atau mengangsur, tentu sebagian besar menjawab pernah. Dan jika dilanjutkan dengan pertanyaan lebih suka tunai atau kredit, maka rasa-rasanya mayoritas menjawab kredit. Inilah fakta sosial bahwa kehidupan saat ini tak bisa lepas dari transaksi yang bernama kredit.

Kredit seolah sudah menjadi sahabat sehari-hari. Namun sebagian lagi berpandangan bahwa kredit itu laksana hantu yang dianggap praktik riba sehingga layak dijauhi. Tak heran pula jika Warkop DKI sampai membuat judul film "Setan Kredit".

Bagaimana memahami kredit menjadi penting. Apakah kredit itu benar-benar penuh riba? Bolehkah dalam hukum Islam? Kegalauan demikian lumrah muncul seiring adanya gerakan penyadaran ekonomi syariah atau fiqih muamalat di tengah masyarakat.

Kita perlu mengklasifikasi praktik kredit terlebih dahulu. Dalam fiqih muamalat, segala transaksi sesuatu itu tergantung akadnya atau ijab qabulnya.

Pertama, seringkali masyarakat menjual atau membeli barang dengan transaksi misalnya, "jika tunai harga 400 ribu, boleh kredit 2 bulan harga 500 ribu". Ini mesti dimaknai sebagai penetapan dua harga jual dan harus diputuskan kesepakatan salah satu harga itu sebelum berpisah. Maka hal itu tidak menjadi soal. Sama halnya menetapkan harga suatu barang antara kurs rupiah atau kurs riyal sebagaimana dihadapi jamaah haji atau umrah Indonesia di Arab Saudi.

Bagaimana dengan hadis Rasulullah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ
"Dari Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah melarang dari 2 transaksi (harga) dalam satu transaksi".

Kalangan mazhab Syafiiyah menjelaskan bahwa maksud adanya 2 transaksi dalam 1 transaksi adalah pemberlakuan syarat dan ketentuan tertentu. Misal, kita mau menjual rumah seharga 400 juta tetapi mensyaratkan calon pembeli menjual mobilnya kepada kita seharga 300 juta. Maka transaksi itu terlarang karena beberapa hal, yaitu adanya membeli barang karena syarat menjual barang yang lain sehingga memenuhi klausul 2 transaksi dalam 1 transaksi. Demikian juga terlarang karena tidak jelasnya penetapan harga pasti jika hanya beli rumah saja atau jual mobil saja, karena jual rumah dan beli mobil itu suatu transaksi yang berbeda.

Praktik lainnya, di kala kita membeli motor atau mobil secara kredit maka seolah ada harga penambahan yang cukup besar. Ini dapat difahami dari 2 sudut pandang transaksinya. Pertama, tidak menjadi soal penetapan barang dengan 2 mekanisme harga yaitu tunai atau diangsur selama dari awalnya sudah jelas disepakati salah satunya. Kedua, praktik pembelian motor atau mobil biasanya dengan leasing yang terkesan kita hutang pada pihak leasing. Di sinilah butuhnya pemahaman tersendiri dalam transaksi.

Jika memang akad kreditnya adalah hutang dan dikenakan adanya bunga penambahan nilai maka jelas itu adalah riba hutang. Namun pada beberapa leasing tertentu, akad yang berlaku menjadi model lain. Leasing membeli motor atau mobil dari dealer kemudian dijual kepada kita dengan harga tertentu dan bisa dibayar selama waktu tertentu. Praktik ini sama halnya kita ingin beli laptop harga 5 juta namun kita tidak punya dana tunai. Maka kita cerita pada teman atau saudara bahwa ada laptop dengan spesifikasi bagus dan harganya murah. Maka teman atau saudara itu membeli laptop sesuai spesifikasi yang kita sebutkan, lalu dijual pada kita seharga 6 juta bisa diangsur setahun. Ini berarti kita membeli laptop dengan harga baru dari pihak lain. Itulah leasing yang telah menerapkan transaksi Murabahah, dan itu sah dalam fiqih muamalat.

Dengan demikian, konsep ekonomi Islam yang sudah diajarkan pada anak-anak level madrasah diniyah salafiyah dengan kitab dasar "Fathul Qarib", rasanya perlu dibumikan. Masyarakat muslim seolah minder sendiri dengan konsep ekonomi yang dimiliki sehingga seringkali menyebut transaksi syariah atau bank syariah, justru lebih "kejam" tambahan nilainya daripada lembaga keuangan umum. Di sinilah kelemahannya, tidak mau memahami transaksinya dan pengelola lembaga syariah pun tidak menjelaskannya.

Sudah terlalu lama fiqih muamalat diajarkan mulai dari anak-anak madrasah diniyah, baik konsep buyu', rahn, syirkah, mudharabah, salam, khiyar dan sebagainya. Kini saatnya para ustadz dan ustadzahnya membumikan dalam kehidupan sehari-hari.

Bogor, 4 Oktober 2017; Jelang Subuh
Muh. Khamdan