Sunday, 26 November 2017

PERANG GENERASI KEEMPAT DAN MANAGEMENT OF SAVAGERY

Di era perang generasi keempat seperti ini, salah satu tahapan penting untuk menguasai sebuah negara adalah dengan membuat kekacauan. Tidak harus mengirim pasukan, cukup bermain melalui kekuatan informasi dan media. Bangunlah opini untuk menggiring sebuah negara menuju ‘failed state’ (negara gagal); hilangkan kepercayaan rakyat terhadap negara, tebalkan rasa sentimen antar elemen bangsa, ganggu agenda-agenda penting menuju negara progresif, dukung sub-sub kekuatan ‘alternatif’, dan tunggulah munculnya chaos. Puncaknya negara kehilangan kontrol atas wilayahnya, kekacauan di mana-mana, dan pelayanan publik terhenti. Saat negara benar-benar kolaps, tidak bisa berdiri di atas kekuatannya sendiri, datanglah team yang sebenarnya sudah lama menunggu lengkap dengan rancangan road map untuk melakukan recovery, yang tentunya sarat dengan kepentingan luar negeri. Irak dan Libiya pada suatu masa dulu pernah mengalami seperti ini.

Para pejuang khilafah mondial ternyata mempunyai konsep yang serupa. Konsep memanaj kekacauan. Berbeda dengan yang pertama, yang lebih berorientasi kapital dan sekular, konsep milik kaum jihadis ini dibungkus dalil dan sentimen keagamaan. Bagi mereka negara yang ada –tak terkecuali Saudi, apalagi yang lain- tidak legitimate secara syar’i, baik bentuk maupun sistemnya. Harus dirubah secara radikal. Tahapan terpenting untuk itu adalah ‘destabilize taghut’, membuat kekacauan di negara-negara taghut, bahkan kekacauan global. Tahapan ini dinamakan “marhalah syaukat al-nikayah wa al-inhak.” Targetnya memperkokoh kekuatan dengan cara memperlemah semua sendi dan merusak fondasi negara melalui berbagai strategi dan teknik via media atau mobilisasi masa, termasuk dengan kekerasan sekeji apapun.



Saat sebuah negara masuk dalam kubang kekacauan dan roboh, mereka telah menyiapkan konsep ‘idarah al-tawahhusy’, memanaj kekacauan menuju recoveri dan konsolidasi; bagaimana proses merebut kekuasaan, bagaimana mengisi kekosongan pelayanan publik dan seterusnya untuk menegakkan yang mereka namai khilafah. Hampir semua negara menjadi target agenda ini, termasuk Mesir yang saat ini sedang mengalami.

Jangan dikira di muka bumi saat ini yang jumlahnya konon 7 milyar kepala lebih, tidak ada kepala yang berisi rencana dua model konsep kekacauan di atas. Setiap hari mereka berfikir, berdiskusi dan merancang strategi untuk mewujudkan proyek ‘savagery’ atau ‘al-tawahhusy’ (kekacauan) ini. Dan layaknya trend perang generasi keempat, mereka tidak perlu turun langsung ke lapangan. Cukup membidik dan menggiring orang, ormas atau kekuatan dalam negara –baik yang faham peta atau tidak- yang bisa dimanfaatkan untuk membuka pintu atau memperlebar jalan.



Oleh Arif Chasanul Muna

0 comments