Sunday, 28 January 2018

Pangeran Talal dan Bahasa Arab Modern yang Kenyal

Beberapa hari terakhir ini sejumlah media di Barat dihebohkan oleh berita BBC yg melansir laporan bahwa Pangeran Alwaleed bin Talal (mungkin pangeran Saudi terkaya saat ini),  - - yang sejak November tahun lalu dipenjarakan di hotel mewah Ritz Carlton di Ryadh (bersama sejumlah pangeran Saudi yang lain),- -  mengalami penyiksaan dan perlakuan lain yang tak mengenakkan. Berita dari BBC ini membuat telinga Raja Salman dan Putera Mahkota MBS (Muhammad bin Salman) panas.


Pihak kerajaan Saudi kemudian mengabulkan permintaan kantor berita Reuters untuk mewawancarai Pangeran Talal (permintaan ini sudah diajukan sejak lama tapi tak digubris oleh pihak kerajaan).
Doc. Pangeran Talal El-Wallid

Sebuah akun twitter anonim @mujtahidd yang cukup populer di dunia Arab (followernya saja dua juta, bayangkan; padahal akun anonim) dan sering mengungkap info-info balik layar tentang kerajaan Saudi mengungkapkan bahwa, konon, Pangeran Talal akan dibebaskan jika dia mau membantah berita BBC melalui wawancara dengan Reuters.

Seperti kita tahu, Pangeran Talal memang akhirnya dibebaskan seperti diberitakan koran-koran internasional kemaren. Wawancara dia dengan Reuters juga akhirnya keluar. Di sana dia menyangkal bahwa ia disiksa dalam tahanan di hotel mewah itu seperti diberitakan BBC. Dia menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang serius antara dirinya dengan Raja Salman dan putera mahkota MBS.

Saya memang mengikuti dengan cukup intens perkembangan tentang Pangeran Talal,  karena studi doktoral saya di Amerika dulu dibiayai oleh beasiswa yang berasal dari "endowment" (wakaf) yang diberikan oleh Pangeran Talal. Dia tergolong pangeran Saudi yang cukup dermawan untuk membiayai studi-studi Islam di beberapa universitas terkemuka di Eropa dan Amerika.

Pangeran Talal menyumbangkan "endowment" yang cukup besar untuk beberapa universitas berikut ini: University of Edinburgh di Skotlandia (kampus di mana sarjana besar Islam Montgomery Watt dulu mengajar), Princeton University di Princeton (almamater teman saya Saiful Umam, Direktur PPIM UIN Syahid, Jakarta yang sekarang), Georgetown University di Washington, DC (tempat di mana dua sarjana Islam besar John L. Esposito dan Yvonne Y. Haddad mengajar), dan Harvard University. Masing-masing universitas tersebut mendapat wakaf dari Pangeran Talal sebesar 20 juta US$ (kira-kira seperempat trilyun rupiah).

Tujuan wakaf itu adalah untuk mengembangkan studi Islam di universitas-universitas tersebut dan menumbuhkan "mutual understanding" (saling pengertian; التفاهم المتبادل) antara dunia Barat dan dunia Islam. Tak ada sama sekali misi penyebaran wahabisme di balik wakaf Pangeran Talal ini. Justru dana ini dimaksudkan untuk mengembangkan kajian-kajian Islam yang modern dan terbuka, "enlightened".

Saya pernah bertemu Pangeran Talal dalam sebuah makan siang terbatas di Barker Center, Harvard University, bersama beberapa mahasiswa lain yang mendapatkan beasiswa dari dia. Dalam dialog tertutup itu terlihat keprihatinan yang "mukhlis" dari Pangeran Talal untuk membantu pengembangan kajian Islam yang modern di universitas Barat. Setahu saya tak ada pangeran kaya dari dunia Islam yang sedermawan pangeran yang satu ini untuk mendanai studi-studi Islam di Barat.

Selingan: Saat bertemu Pangeran Talal itu saya "membatin" dalam hati: kenapa dia tak memberikan "endowment" serupa kepada universitas-universitas di dunia Islam sendiri. Saya, entah kenapa, tak sempat menanyakan hal itu kepada dia saat itu.

Di tengah pemberitaan mengenai dibebaskannya Pangeran Talal ini, saya justru tertarik oleh hal yang sepele yang tak ada kaitannya dengan isu pokok, yaitu sebuah istilah Arab baru yang dipakai oleh koran-koran Arab untuk menerjemahkan kata "holding". Pangeran Talal mendirikan sebuah perusahaan "holding" raksasa bernama Kingdom Holding Company, berpusat di Ryadh.

Dalam bahasa Indonesia, istilah "holding company" sering diterjemahkan sebagai "perusahaan induk". Tetapi istilah ini, setahu saya, jarang dipakai. Orang-orang umumnya lebih suka menggunakan istilah "holding" dalam bentuk asli, tanpa diterjemahkan, seperti kegemaran umumnya orang-orang Indonesia untuk menggunakan istilah Inggris. (Bandingkan dengan istilah "existing" yang sekarang banyak dipakai dengan cara yang lucu; misal: proyek existing 😀, padahal maksudnya "proyek yang ada, proyek yang sedang berjalan").

Dalam soal kegigihan menggunakan bahasa sendiri, ketimbang meminjam begitu saja istilah-istilah asing, bangsa Arab harus diakui sangat hebat. Mereka sedapat mungkin mencari padanan Arab untuk istilah-istilah asing, dan tak menyerah dengan cara meminjam istilah-istilah itu. Saya akan berikan beberapa contoh di bawah.

Kata "holding", misalnya, diterjemahkan sebagai "القابضة" (al-qabidlah). Perusahaan Pangeran Talal tadi, misalnya, dalam versi Arabnya adalah: شركة المملكة القابضة" (Syarikat al-Mamlakah al-Qabidlah). Kata "القابضة" memang lebih tepat sebagai padanan untuk kata "holding", sebab kata dasar "to hold" dalam bahasa Inggris artinya adalah "memegang," sama dengan makna harafiah kata kerja "قبض" dalam bahasa Arab. Kata "induk" yang dipakai sebagai padanan untuk kata "holding" dalam bahasa Indonesia bukan padanan yang lurus, tetapi terjemahan non-harafiah.

Contoh lain adalah istilah "universitas" yang berasal dari istilah Latin "universus" (secara harafiah artinya: menjadi satu - -  uni-versus). Padanan Arab untuk istilah ini adalah "الجامعة" (al-jami'ah) yang secara harafiah memang sejajar dengan makna kata universitas dalam bahasa aslinya. Bahasa Indonesia tak punya padanan yang "apple-to-apple" dengan kata universitas. Paling jauh kita hanya menggunakan kata "perguruan tinggi" yang bukan merupakan padanan langsung.

Istilah "teori" juga punya padanan Arab yang pas sekali: "نظرية" (nadzariyyah) yang sepadan dengan makna asli "theoria" dalam bahasa Yunani yang artinya adalah "melihat". Kata kerja "نظر" (nadzara)  - - darimana istilah "nadzariyyah" diambil-- mempunyai makna "melihat", persis dengan kata "theoria" dalam bahasa Yunani.

Saya sendiri tak mengerti kenapa bahasa Arab memiliki padanan-padanan yang pas dan "plèg" dengan istilah-istilah asing, sementara bahasa Indonesia lebih cenderung "mencaplok" saja istilah-istilah asing itu tanpa dicarikan padanannya secara kreatif. Saya katakan "cenderung"; artinya tidak dalam semua kasus.

Apakah karena alasan kemiskinan bahasa Indonesia? Kemalasan? Atau rendah-diri kebahasaan?

'Ala kulli hal, saya kagum dengan kemampuan bahasa Arab mempribumikan istilah-istilah asing dengan kosa-kata yang berasal dari bahasa Arab sendiri. Contoh yang saya kemukakan di atas hanya permukaan gunung es saja. Masih banyak contoh yang lain.

Poin saya: Tampaknya bahasa Arab lebih kenyal (adaptif dan bisa menyerap secara lebih kreatif) ketimbang bahasa Indonesia.


*capek ngetik * 😀



oleh Ulil Abshar Abdalla

0 comments