Friday, 16 February 2018

Kebetulan-kebetulan Seputar Al-Ghazali dan Ibn Rusyd

Saat ini saya "mengampu" (jailah, mengampu, kayak dosen UIN saja 😀) dua pengajian online, yaitu kitab Ihya' dan Bidayat al-Mujtahid. Yang pertama ditulis oleh Imam Ghazali, yang kedua ditulis oleh Ibn Rusyd. Yang mau saya sampaikan di sini bukan soal gagasan mereka berdua, tetapi hal lain: yaitu adanya sejumlah koinsidensi atau kebetulan-kebetulan yang tak saya sengaja berkait dengan pengajian saya ini.

Kebetulan-kebetulan ini tentu saja berkat "konstruksi" dalam pikiran saya saja; dan karena itu juga jelas berpotensi mengandung "othak-athik-gathuk", mencocok-cocokkan hal-hal yang sebetulnya tak berhubungan. Manusia memang pada dasarnya adalah spesies yang bisa kita sebut "homo cocokus" - - manusia yang suka membuat korelasi antara hal-hal yang sebetulnya tak ada "hubungan kekerabatan atau pernikahan" antara mereka.

😀

Kebetulan pertama:

Saya tak pernah merencanakan sejak awal untuk mengampu pengajian yang berbasis pada karya kedua sarjana besar ini (Catatan: semula saya menulis "imam besar", tapi saya hapus, karena bisa punya "makna politis" lain). Bahkan saya pun tak pernah berniat membaca Ihya' untuk publik luas (meskipun kitab ini sudah menjadi "wiridan" untuk diri saya sendiri sejak bertahun-tahun yang lalu --  saya baca sendirian di ruang perpustakaan pribadi saya setiap hari).

Doc. Google

Saya mulai baca kitab ini sekitar sepuluh bulan yang lalu, yaitu pada bulan puasa tahun lalu. Sepuluh bulan setelah membaca kitab ini, tanpa tak saya rencanakan, tiba-tiba muncul keinginan saya untuk membaca karya Ibn Rusyd.

Kebetulannya adalah: dua sarjana besar ini bisa kita anggap sebagai sebuah pasangan atau "tandem". Al-Ghazali bekerja di "ruang peradaban/intelektual" di sebelah timur, di Khurasan, Baghdad, kemudian Khurasan kembali (di ujung hidupnya). Kota-kota itu berada di sebelah timur dalam geografi Islam klasik - - bilad al-masyriq.

Sementara, Ibn Rusyd bekerja di ruang peradaban di sebelah Barat: Sevilla, Cordoba (dua kota ini ada di Andalusia - - nama Arab untuk kawasan Spanyol dan Portugal di era ketika Islam berkuasa di sana pada 711-1492 M dulu) dan Maroko.

Dengan kata lain: Imam Ghazali dan Imam Ibn Rusyd mewakili dua wilayah besar dalam peradaban Islam klasik: Timur (al-masyriq) dan Barat (al-maghrib). Pengajian online saya, secara kebetulan saja, tanpa saya rencanakan, menyuguhkan warisan intelektual dari dua wilayah besar yang saling berpasangan dalam sejarah Islam klasik ini.

Catatan selingan:

Ibn Rusyd lahir sekitar lima belas tahun setelah al-Ghazali wafat. Data lain yang menarik, di bagian barat (maghrib) inilah pernah berkuasa sebuah dinasti yang disebut Al-Murabithun (di dunia Latin sering disebut Almoravid), sebuah dinasti yang lahir sebagi respon atas krisis politik di Andalusia yang ditandai dengan terpecah-pecahnya wilayah Islam di sana ke dalam kekuasaan kecil-kecil yang saling bertikai (sering disebut dengan istilah "muluk al-thawa'if").
Ilustrasi 2

Ilustrasi 3


Di era dinasti al-Murabithun/Almoravid inilah pernah keluar fatwa oleh seorang qadi di sana bernama Ibn Hamdin untuk membakar kitab Ihya'. Kenapa keluar fatwa ini, akan saya bahas di kesempatan lain.

Kebetulan kedua:

Secara tak saya sadari sejak awal, tiba-tiba saya mengampu pengajian dengan membaca dua sarjana yang secara "filsafat" juga berasal dari dua mazhab yang saling berhadap-hadapan, tetapi saling melengkapi. Imam Ghazali berada dalam tradisi filsafat yang berwatak neoplatonistik (berasal dari tradisi Plato di Yunani).

Tradisi neoplatonisme ini dikembangkan oleh Plotinus di Mesir dan punya pengaruh besar dalam fase sejarah yang kerap  disebut "Late Antiquity" (fase kesejarahan yang merupakan transisi dari era klasik ke abad pertengahan dalam periodisasi yang dibuat oleh Peter Brown). Tradisi ini, dari semangat dasarnya, memang sangat cocok dengan alam pikir tasawwuf.

Meskipun Imam Ghazali punya kritik keras atas filsafat neoplatonisme yang, di dunia Islam, dikembangkan oleh Ibn Sina, tetapi jejak-jejak filsafat ini tak bisa hilang dari Imam Ghazali hingga akhir hayatnya, seperti bisa kita "baui" melalui kitab-kitab beliau seperti Misykat al-Anwar, bahkan Ihya' sendiri.

Sementara itu, Ibn Rusyd bekerja secara intelektual dalam tradisi aristotelian (berdasarkan tradisi filsafat Aristoteles). Sebagai catatan saja: tanpa kontribusi Ibn Rusyd, mungkin filsafat Aristoteles tak akan sampai ke Eropa Barat, atau minat pada warisal filosofis Aristoteles tak akan tumbuh di sana.  Berkat kerja Ibn Rusyd lah, karya-karya Aristoteles bisa diselamatkan dan diterjemahkan ke bahasa Latin. Ibn Rusyd berjasa besar dalam memberikan syarah, komentar atas karya-karya Aristoteles itu. Begitu besarnya jasa Ibn Rusyd, hingga dia disebut sebagai "The Commentator", Al-Syarih.

Ada kemiripan-kemiripan, tetapi juga sekaligus perbedaan antara Imam Ghazali dan Ibn Rusyd. Mereka sama-sama menggeluti bidang intelektual yang merupakan ilmu primadona di dunia Islam klasik, yaitu fikih (hukum Islam; bandingkan dengan situasi di dunia modern yang sekular saat ini: ilmu hukum dipandang sdbagai ilmu bergengsi; "lawyer" mendapatkan bayaran mahal, terutama di Amerika; saya lalu teringat film lama yang dibintangi Tom Cruise, "The Firm" dan novel-novel John Grisham).

Bedanya, Imam Ghazali bekerja dalam tradisi fikih bermazhab Syafii, sementara Ibn Rusyd bekerja dalam tradisi mazhab Maliki. Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik yang merupakan guru langsung dari Imam Syafii, pendiri mazhab Syafii.

Baik Imam Ghazali maupun Ibn Rusyd menggemari filsafat dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Tidak seperti anggapan banyak kalangan yang berpikiran bahwa Imam Ghazali meninggalkan filsafat setelah menggeluti tasawwuf, Imam Ghazali tak pernah meninggalkan filsafat sama sekali, meskipun beliau berusaha melakukannya.

Murid Al-Ghazali sendiri, yaitu Abu Bakr Ibn al-Arabi (jangan dijumbuhkan dengan mistikus besar Ibn Arabi, tanpa artikel "al") memberikan kesaksian yang terkenal: شيخنا أبو حامد بلع الفلاسفة وأراد أن يتقيأهم فما استطاع (Guruku, Abu Hamid [alias al-Ghazali], telah menelan [bahasa pesantrennya: "nguntal"] para filsuf, dan dia berusaha memuntahkan balik para filsuf itu, tetapi tak bisa).

Perbedaan antara Ibn Rusyd dan al-Ghazali dalam hal filsafat ini hanya satu saja: sementara Ibn Rusyd menggeluti juga ilmu kedokteran (dalam tradisi klasik, para filsuf biasanya menggeluti juga ilmu kedokteran, sebab ilmu ini dianggap bagian dari filsafat juga), Imam Ghazali tidak. Ibn Rusyd bahkan menulis karya khusus dalam bidang kedokteran ini, berjudul "Al-Kulliyyat fi al-Thibb". Di dunia Latin di Eropa Barat, karya kedokteran Ibn Rusyd ini dikenal melalui terjemahannya yang berjudul "Colliget Averrois".

Terakhir, ada kebetulan lain yang "remeh temeh": dalam pengajian saya selama ini, saya menggunakan kitab Ihya' dalam edisi Dar Ibn Hazm (padahal ada edisi lain yang jauh lebih baik yang diterbitkan oleh Dar al-Minhaj). Eh, ndilalah kok saya menggunakan kitab Bidayat al-Mujtahid dalam edisi yang juga diterbitkan oleh Dar Ibn Hazm (selain edisi yang diterbitkan oleh Abdullah Abbadi).

Kebetulan-kebetulan yang serba kebetulan.

Waba'du: Ini akhir minggu ngapain sih saya nulis hal-hal yang "pèthènthèngan" kayak gini. Kurang kerjaan aja...

😀

Keterangan gambar:

1. Patung Ibn Rusyd alias Averroes di Cordoba, Spanyol; 2. Wilayah kekuasaan dinasti-dinasti Islam di Andalusia/Spanyol dulu; 3. Edisi "Colliget Averrois",  terjemahan kitab "Al-Kulliyyat fi al-Thibb" karya Ibn Rusyd ke dalam bahasa Latin.

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

0 comments