Monday, 8 April 2019

Istimewa, Sejarah Masjid Tertua di Pulau Pinang

Masjid Melayu Lebuh Acheh Pulau Pinang I foto: istimewa

“Begitu besarnya jasa beliau untuk Pulau Pinang, tak sepotong jalan pun yang dipakaikan namanya,” keluh Yahya tentang pendiri masjid Aceh itu.

SUDAH beberapa kali saya menginjakkan kaki di masjid ini. Namun inilah pertama kalinya saya berkesempatan melaksanakan salat tarawih menyambut hari pertama datangnya bulan suci Ramadan di masjid bersejarah ini.

Meski terpisah lautan dengan Aceh, Penang punya sepotong jalan bernama Jalan Acheh. Orang Malaysia menyebutnya Lebuh Acheh.

Maka ke jalan inilah saya menyeret langkah pada malam pertama bulan Ramadan. Di pertengahan ruas jalan berdiri Masjid Melayu atau Masjid Jamiek. Masjid dan sepotong jalan inilah saksi bisu kejayaan orang-orang Aceh di Pulau Pinang pada abad 18 dan 19.

Dibangun tahun 1808, masjid ini didirikan oleh Teungku Sayed Hussain Idid, orang Aceh keturunan Yaman. Catatan di dinding masjid menyebutkan Teungku Sayed datang ke Penang tahun 1792, selang 6 tahun setelah Kapten Francis Light dari Inggris masuk ke sana pada 1786.

Orang Penang mengenang Teungku Sayed sebagai pedagang dan bangsawan yang amat kaya. Hartanya bertabur sepanjang Lebuh Pantai hingga Lebuh Acheh. Ia juga dikenang sebagai dermawan yang membayar biaya sekolah anak-anak miskin di pulau itu ke sekolah bermutu.

Pada masanya, Lebuh Acheh adalah perkampungan sekaligus pusat studi agama Islam, budaya, dan sastra di Penang. Dengan kata lain, lewat Teungku Sayed Hussain, Aceh berperan besar dalam kebudayaan Islam di Penang.

Teungku Sayed diperkirakan meninggal tahun 1840. Jasadnya dikuburkan di belakang masjid bersama pengikut dan sanak keluarganya.

Sebelum malam turun, 174 tahun setelah Teungku Sayed berpulang, saya berziarah ke makamnya. Di atas batu nisan bercorak serupa yang ditemukan pada makam pembesar kerajaan Aceh dulu, ada sisa taburan bunga yang mulai layu.

***

Terletak di ujung selatan George Town, masjid di Lebuh Acheh masuk Tapak Warisan Duni ni dibangun dengan gaya arsitektur Moorish, corak yang juga muncul pada Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Namun, kubahnya tidak berbentuk setengah lingkaran, melainkan beratap meru. Gaya arsitektur China tercermin dari butiran abstrak naga di puncak dan sudut-sudut atap.

Menariknya, meski sudah ada kran air tempat wudhu, di teras samping kiri masjid ada kulah air yang posisinya sedikit lebih tinggi dari lantai. Sebagian orang memilih berwudhu di sini. Kulah ini mengingatkan pada model serupa yang terdapat di Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar.

Ruang salat utama berbentuk segi empat. Selain tiang-tiang yang melekat pada tiga sisi dinding, ada enam tiang sebesar pelukan orang dewasa di ruang salat utama. Jarak antar tiang sekitar 4 meter.

Menjelang salat isya, jamaah terus berdatangan. Karena ada perbedaan waktu satu jam dengan Indonesia bagian barat, azan isya berkumandang tepat pukul 21.00. Lima belas menit kemudian salat tarawih dimulai. Ada dua shaf jamaah laki-laki. Jumlahnya 37 orang. Di bagian belakang, ada dua shaf perempuan yang terpisah kain tirai dengan jamaah lelaki. Saya tak bisa menghitung berapa persisnya jamaah perempuan yang hadir.

Di shaf lelaki, terlihat wajah-wajah dari campuran etnis. Ada wajah India, Melayu, juga Pakistan. Saya tak menemukan wajah Cina muslim di antara mereka.

Ketika imam menyelesaikan rakaat ke delapan, sebagian jamaah memilih undur diri. Yang tadinya ada 37 orang, kini tersisa 21 orang. Imam pun melanjutkan hingga selesai 21 rakaat. Ketika imam mengucapkan salam terakhir tanda tawarih usai, jarum jam bertengger di angka 22.30.

***

Usai tarawih, saya menghampiri seorang lelaki tua di teras masjid. Namanya Muhammad bin Yahya. Di usia 76 tahun, ia menjabat sebagai Ketua Badan Warisan Masjid Melayu Pulau Pinang. Ia adalah generasi kelima dari imam pertama masjid itu bernama Syeikh Omar Basheer.

Muhammad Yahya tinggal di rumah tua di kompleks masjid. Rumah bernomor 69 itu diwariskan turun temurun untuk keluarga imam masjid.

Ketika tahu saya datang dari Aceh, ia sejenak terkejut, lalu dengan antusias memperkenalkan saya kepada beberapa lelaki lain yang tampaknya juga pengurus masjid.

“Ini masjid orang Aceh buat. Mestilah datang kat sini (haruslah datang ke sini),” ujarnya dengan nada ramah.

Ada satu kenangan tentang yang masih hidup di benak Yahya hingga kini. Suatu hari, sepekan setelah bencana tsunami Desember 2004, satu rombongan besar datang ke masjid Lebih Acheh. Mereka datang dengan dua bus besar. "Ternyata mereka orang-orang Malaysia keturunan Aceh yang datang ke sini untuk berdoa bagi keselamatan Aceh. Itu saya terharu sekali," kata Yahya yang biasa disapa Cek Gu.

Seperti juga kepada orang lain, Cek Gu lantas bercerita tentang betapa besarnya sosok Teungku Sayed Hussain, sang saudagar sekaligus ulama dermawan yang dihormati.

Namun ada satu yang disesalkan Yahya. “Begitu besarnya jasa beliau untuk Pulau Pinang, tak sepotong jalan pun yang dipakaikan namanya,” keluh Yahya yang mengaku sudah mengusulkan kepada pejabat berwenang agar nama Teungku Sayed Hussain diabadikan sebagai nama jalan.

“Ketika Francis Light dari Inggris membangun kota ini dulu, sebagian uangnya dipinjam dari Teungku Sayed Hussain. Karena itu Teungku Sayed mendapat anugerah sebagai warga kehormatan Inggris,” tambah Yahya.

Sebelum meninggal, Sayed Hussain juga terlibat upaya-upaya penyelundupan senjata ke Aceh. Sebelum lahirnya maklumat perang Aceh pada 1873, Belanda beberapa kali mengancam kedaulatan Aceh.

Teungku Sayed tak tinggal diam. Menurut Yahya, suatu ketika Sayed ditangkap dan dipenjara gara-gara kapalnya membawa meriam untuk dikirim ke Aceh.

Ketika Teungku Sayed meninggal, kata Yahya, pergerakan perjuangan anti-Belanda di Penang tetap digerakkan dari masjid dan Lebuh Acheh.

“Mereka kirim senjata dari sini ke Aceh untuk melawan Belanda. Rapat-rapat di masjid ini lah,” kata Yahya yang biasa dipanggil Cek Gu.

Saya sejenak terdiam, menatap teras masjid. Di hadapan saya seolah-olah tampak puluhan orang sedang duduk berembuk, mengatur strategi untuk mengusir penjajah Belanda dari seberang lautan. Mereka adalah para pahlawan tanpa tanda jasa yang tak tercatat dalam buku-buku sejarah.

“Tanggal 6 Juli kamu harus datang ke sini. Ada acara buka puasa bersama. Saya diminta untuk mengundang tokoh-tokoh keturunan Aceh di Malaysia,” kata Cek Gu membuyarkan lamunan saya.

Sebuah tawaran menarik yang tentu saja tak boleh dilewatkan begitu saja.

Malam kian larut. Cek Gu mohon pamit. Saya pulang ke penginapan dengan rasa bangga memenuhi rongga dada. Bangga pada Teungku Sayed yang meninggalkan harumnya Aceh dalam kenangan orang-orang di Pulau Pinang. Tarawih pertama di Penang begitu mengesankan.

(Yuswardi A. Suud)


EmoticonEmoticon