Friday, 5 April 2019

Kritik Klaim Khilafah HTI, menurut Imam Al-Qurthubi?

Mufasir ternama imam al-Qurtubi sejak lama sering dijadikan rujukan oleh teman-teman HTI dalam menegaskan argumen khilafah yang mereka usung. Namun bagaimana duduk soal dari mufasir tersebut? Dalam tulisan singkat ini saya hanya akan membahas dua hal—sesuai poin yang sering mereka keluarkan.
Ustad Hafidz Abdurrahman pernah menegaskan “Kata Khalîfah juga bisa berkonotasi Mashdar-nya, Khilâfah. Dengan kata lain, konotasi “Khilâfah” sebagai ajaran Islam memang ada dalam al-Qur’an. Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Ahli Tafsir ternama, Imam al-Qurthubi (w. 671 H), yang hidup di era Khilafah ‘Abbasiyah, ketika menjelaskan, Q.s. al-Baqarah: 30. Ketika beliau menjelaskan konotasi kata “Khalîfah” tidak hanya konotasi, Khalîfatu-Llâh fi al-Ardh [wakil Allah di muka bumi], tetapi juga “Khalîfah” dengan konotasi “as-sulthân al-a’dham.”

Ungkapan di atas ingin menguatkan bahwa khalifah yang dimaksud adalah “as-sulthân al-a’dham”, seorang pemimpin Islam dunia, khalifah yang mempersatukan dan menegakkan kebenaran ajaran Islam seantero jagat.
Catatan pertama, tentang produk tafsirnya.
Ayat yang dimaksud adalah QS. Al-Baqarah [2]: 30 khususnya tafsir atas kata khaifah berikut:
هَذِهِ الْآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبِ إِمَامٍ وَخَلِيفَةٍ يُسْمَعُ لَهُ وَيُطَاعُ، لِتَجْتَمِعَ بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتَنْفُذُ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيفَةِ. وَلَا خِلَافَ فِي وُجُوبِ ذَلِكَ بَيْنَ الْأُمَّةِ وَلَا بَيْنَ الْأَئِمَّةِ إِلَّا مَا رُوِيَ عَنِ الْأَصَمِّ حَيْثُ كَانَ عَنِ الشَّرِيعَةِ أَصَمَّ، وَكَذَلِكَ كُلُّ مَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ وَاتَّبَعَهُ عَلَى رَأْيِهِ وَمَذْهَبِهِ
Imam al-Qurthubi tidak pernah menyebut “as-sulthân al-a’dham.” Dalam uraian al-Qurthubi di atas, dijeaskan bahwa ayat tersebut sebagai dasar mengangkat pemimpin dan khalifah yang didengar dan ditaati, dengannya suara bersatu, dan dengannya hukum-hukum khalifah diterapkan. Karenanya, mengatakan bahwa Imam al-Qurthubi mengatakan ‘khalifah’ berkonotasi ‘al-imam al-a’dham’ adalah kesimpulan dari Ustad Hafidz sendiri. Mengangkat imam dan khalifah tidak berarti harus ‘al-sulthan al-a’dham’. Agar suara umat bersatu juga tidak berarti ‘umat seluruh dunia’. Mengatakan bahwa maksud kata ‘imam’ dalam tafsir al-Qurthubi di atas dengan ‘al-imam al’a’dham’ tidak sesuai dengan fakta historis saat beliau hidup—akan dibahas di catatan berikutnya.
Catatan kedua, masa hidup imam Qurthubi.
Ustad Hafidz Abdurrahman juga berusaha meyakinkan: “Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Ahli Tafsir ternama, Imam al-Qurthubi (w. 671 H), yang hidup di era Khilafah ‘Abbasiyah, ketika menjelaskan, Q.s. al-Baqarah: 30.”
Mari kira cek !
Al-Qurthubi yang dimaksud adalah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Anshari al-Khazraji Abu Abdillah al-Qurthubi. Lahir kira-kira tahun 600 H (tidak ada data meyakinkan) di Cordoba dan wafat pada 671 H di Mesir (Suyuthi, Thabaqat al-Mufassirin, 96). Beliau asli orang Andalusia—sekarang Spanyol (negaranya Ramos pemain Madrid) dan Portugal (termasuk Medira tempat kelahiran Cristiano Ronaldo). Al-Qurthubi sendiri nisbat ke kota Qurthubah (Cordoba), kota asalnya yang masih eksis di Spanyol sampai sekarang. Cordoba saat ini memiliki klub sepak bola terkenal. Musim 2014/2015 sih klub ini masih di La Liga (devisi utama liga Spanyol), tapi sayang sekali, di akhir musim tersebut klub itu harus berada di urutan paling buncit sehingga harus terdegradasi ke Segunda División (devisi satu). Musim ini pun (2018/2019) klub tersebut juga terancam turun ke Segunda División B sebab di pekan ke 32 (minggu pertama April 2019) ini berada di zona merah klasemen. Loh kok ngomongin bola…?
Kembali ke Al-Qurthubi.
Jika Ustad Hafidz Abdurrahman (HTI) mengatakan al-Qurthubi hidup di masa daulah Abbasiyah itu statement yang agak aneh, setidaknya bagi saya. Mengapa? Pertama. karena Daulah Bani Abbasiyah tidak pernah menguasai Andalusia. Bisa dilihat di berbagai buku sejarah seperti Tarikh al-Islam, Daulah al-Islam fil Andalus, Tarikhul Khulafa, dll. Karya-karya ini sama sekali tidak menyebutkan kekuasaan daulah Abbasiyah di negeri Sergio Ramos tersebut.
Andalusia pertama kali berada dalam kekuasaan Bani Umayyah. Khalifah pertama daulah Umayyah di Andalusia ini adalah Abdur Rahman bin Muawiyah bin Hisyam yang dilantik pada tahun 138 H. Ia menghindar (lari) dari bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Kekuasaan bani Umayyah di Andalus berakhir pada tahun 406 H (Tarikh al-Khulafa’: 366). Perlu dicatat, Daulah Abbasiah Irak mulai berkuasa sejak tahun 132 H dan berakhir pada 659 H (khalifah terakhir adalah al-Musta’shim Billah). Di tahun itu pusat dinasti ini pindah ke Mesir hingga tahun 903 H.
Al-Qurthubi tercatat pernah hidup di Kordoba Andalusia dan Mesir. Beliau hidup di Cordoba, tanah kelahirannya hingga tahun 633 H (sampai usia 33 tahun). Di masa hidup beliau, Cordoba berada dalam kekuasaan daulah Muwahhidun, sebelum takluk di tangan pasukan Frank. Sebelumnya, Andalusia dikuasai Bani Umawiyah sejak 138 H hingga 406 H, kemudian daulah al-‘Amiriyah dan daulah bani Hammud (berakhir pada tahun 422 H), dilanjut Daulah Murabithun (pada 448 sampai 541 H) dan Muwahhidun (524 sampai 667 H). Khalifah terakhir dinasti Muwahhidun adalah al-Watsiq.
Di masa hidup al-Qurthubi (juga di abad-abad sebelumnya), Cordoba dan wilayah sekitar Andalusia lainnya ada beberapa khilafah atau dinasti yang membentuk kekuasaan sendiri. Raghib al-Sirjani mencatat, sejak pemerintahan Hisyam bin Hakam (dari Daulah ‘Amiriyah) Andalusia Islam pecah menjadi 22 kerajaan kecil, seperti Granada, Murcia, Valencia, Sevila. Menurutnya, masing-masing penguasa mendeklarasikan sebagai Amirul Mukminin. Maka tidak jarang terjadi peperangan antar kerajaan Islam saat itu. Misalnya, kerajaan Cordoba berperang melawan khilafah Sevila, Valencia melawan Zaragoza (nampaknya peperangan itu tak pernah usai hingga sekarang, tapi di zaman modern ini medan perangnya di lapangan hijau… Pagi ini yang perang saudara terjadi antara Valencia melawan Real Madrid; kemaren Barcelona ditahan imbang Villareal dengan skor 4 4. Sayang sekali Madrid harus kalah lagi ! [[Spanyol era Islam perang saudara dengan senjata saling membunuh. Spanyol Kristen era modern perang saudara dengan bola. Mungkin ini alasan sepak bola orang Islam belum maju... sulit move on ! hehe]]).
Al-Sirjani menuturkan (Juz 8: 3) :
وإذا نظرنا إلى واقع المسلمين في الأندلس المجزأة إلى (22) دولة نجد أنها دول مفرقة ومفتتة، وكلها تنتمي إلى الإسلام، وكل واحد من هؤلاء الذين حكموا هذه الدويلات الصغيرة قد أعلن أنه أمير المؤمنين، ليس فقط أمير مدينة من المدن، إنما أمير كل المؤمنين وكأنه يستحق أن يكون أميراً للمؤمنين في جميع أنحاء الأرض. حتى إن الرجل في ذلك الوقت كان يمر على ثلاثة من أمراء المسلمين في يوم وليلة لصغر حجم الإمارات، فهي بلاد صغيرة جداً، وكل مدينة وما حولها من القرى تعتبر نفسها دولة ومملكة-
Bagaimana ketika Imam al-Qurthubi pindah ke Mesir? Beliau menempa hidup di negeri Piramida ini setelah usia 33 tahun hingga wafat pada tahun 671 H (Al-Qurthubi al-Mufassir: 42). Di sanalah kira-kira beliau menulis kitab tafsinya (belum ada data valid yang saya peroleh). Yang patut dicatat, daulah Islam yang pernah berkuasa di Mesir adalah Fathimiyah (sejak tahun 358 H). Pada tahun itu penguasa pertama al-Mu’izz membangun Universitas al-Azhar yang rampung 2 tahun berikutnya. Kemudian kekuasaan Fathimiyyah diambil alih oleh dinasti Ayyubiyah. Khalifah pertama bernama Shalahuddin Yusuf bin Ayyub yang berkuasa sejak bula Rabi’ul Akhir tahun 564 H. Di tahun 635 H pemegang posisi khalifah adalah al-Malik al-‘Adil setelah menggantikan ayahnya, al-Kamil. Lalu Mesir berpindah ke dalam kekuasaan Mamluk. Pada tahun 656 H, Khalifah Bani Abbasiyah al-Musta’shim di Baghdad gugur sebagai tanda runtuhnya Dinasti Abbasiyah di tangan pasukan Tartar pada tahun 659 H (Al-Hasan, Nazhah al-Malik wa al-Muluk: 151). Pada tahun 660 Daulah Abbasiyah pindah ke Mesir, negeri para Mummy, dengan sisa kekuatan dan kekuasaan hingga tahun 903 H.
Silakan disimpulkan sendiri, bagaimana Imam al-Qurthubi menjalani kehidupan di bawah khilafah saat di Cordoba Spanyol maupun di Mesir, bagaimana pula kitab tafsrinya ditulis.
Kurdi Fadal


EmoticonEmoticon