Monday, 8 April 2019

Sholat “Campur” di GBK, Dari Menyalahi Sunnah hingga Laku Liberal

Status Moch Nur Ichwan. Foto: Istimewa

Komentar bervariasi bermunculan menanggapi viralnya foto-foto sholat berjamaah para pendukung Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno (7/4/2019). Banyak warganet menanyakan tentang status hukum sholat bercampur seperti itu. Karena tidak lazim dilakukan dalam keseharian.

Prof. Nadirsyah Hosen, dosen Hukum di Monash University, menanggapi pertanyaan dari seorang netizen @Widayatiningsi1, yang bertanya status hukum sholat yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. “Mazhab Hanafi mengatakan shalat bercampur shaf lelaki dan perempuan ini batal shalatnya. Jumhur ulama mengatakan tidak batal. Jadi gak usah kita persoalkan lah,” jawab Gus Nadir, sapaan akrabnya.

Lewat akun twitternya, KH. Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat menanggapi kasus ini dengan jawaban yang mengajak berpikir. “Sunnahnya shaf perempuan itu di belakang laki-laki. Tapi kalau shalat nyampur antara laki dan perempuan dlm satu shaf itu menyalahi sunnah atau makruh. Tapi menurut mazhab Hanafi itu membatalkan shalatnya,” jawabnya di akun twitter @cholilnafis. Meskipun terdapat perbedaan pandangan, Cholil Nafis menyarakan agar sholat sedianya dilakukan di masjid karena lebih utama.

Peristiwa ini juga menmbuat Dr. Moch Nor Ichwan, Dosen UIN Sunan Kalijaga angkat bicara. Menurutnya, sholat model tersebut justru memperlihatkan cara pandang yang liberal dalam beragama. Meski demikian, Nur Ichwan bersyukur karena cara shalat yang seperti itu justru memperlihatkan ijtihad baru oleh mereka yang dianggap sebagai kalangan yang anti-Islam Liberal.

“Sedang heboh shalat ikhtilat (bercampur laki2 dan perempuan) dalam satu baris, dan tak jarang yang perempuan di depan laki-laki. Kalau bagi saya sih alhamdulillah, pasti ada hikmahnya. Tanpa disebut liberal, ijtihad itu sudah diterapkan, justru oleh mereka yang saya kira kebanyakan anti-Islam liberal, dan mungkin juga pendukung fatwa haramnya liberalisme keagamaan. Muslim liberal pun belum tentu berani shalat model begini. Dalam istilah yang sedang populer, ini lebih liberal dari yang liberal. Tentang argumennya, dalam fiqih sebut saja 'illah-nya "dharurah siyasiyyah", darurat karena alasan politik. Atau bisa juga "al-masyaqqatu tajlibu al-taysir", kesulitan itu dapat mengakibatkan kemudahan. Kan sulit tuh harus pindah2, apalagi kan ada kesetaraan gender. Dengan demikian ijtihad fiqih lebih dinamis. Saya kira kita bisa melihat itu dalam kacamata yang positif,” jelas Ichwan di akun facebooknya.

Status facebook yang telah dibagi delapan kali ini mendapatkan komentar beragam. Ada yang bilang “Madzhab monas”, “Liberal atau ngawur?”, “Lebih Islam dari Islam”, hingga “Ahlinya ahli.” Apakah mereka liberal? Wallahu a’lam. Hanya mereka yang tahu. Menurut pembaca?

Prof. Nadirsyah Hosen menjawab pertanyaan netizen
Komentar KH. Cholil Nafis soal sholat ikhtilat








EmoticonEmoticon