Tuesday, 7 May 2019

Politik Kesalehan


Kenapa banyak orang berakting menjadi orang saleh dan relijiyes? Padahal aslinya atau sejatinya mereka ini mbelgedes tingkat demit cirit dan tuyul gundul. Itu karena sebagian orang tahu kalau kesalehan itu bisa dipakai sebagai "alat politik" untuk memperdaya dan mempengaruhi massa. Inilah yang disebut dengan "politik kesalehan".   

Dunia ini memang seperti sebuah panggung drama. Di atas panggung, mereka berlagak alim, relijiyes, sopan-santun, baik hati. Padahal di belakang panggung, mereka adalah bagian dari komplotan "bajing loncat" yang mbrodoli etika dan moralitasnya.

Di atas panggung mereka tampak laksana malaikat yang tak butuh apa-apa: harta, kuasa dan lainnya. Padahal di belakang panggung, mereka adalah kumpulan "buto ijo" yang rakus dan haus harta dan kuasa.

Di atas panggung, mereka bak panda yang baik hatinya. Padahal di belakang panggung, mereka adalah sekawanan "serigala mupeng" yang jahat perilakunya.

Di atas panggung, mereka bilang "sudah hijrah" ke jalan yang benar. Padahal di belakang panggung, mereka "hijrah ke selokan" (nyemplung ke got).

Di atas panggung, mereka mengaku sudah mendapat hidayah. Padahal di belakang panggung, mereka sebetulnya tidak mendapat hidayah karena mbak hidayah sedang ngompreng untuk lebaran, bersama teman-teman karibnya: mpok nurjanah, mbak paijem, mbok tolkiyem.

Di atas panggung, mereka mengaku sudah tobat. Padahal di belakang panggung, tobatnya itu soto babat.

Di atas panggung, mereka mengaku ustad. Padahal di belakang panggung, mereka adalah preman pengkolan.

Di atas panggung, mereka mengaku ulama. Padahal di belakang panggung, mereka adalah kumpulan ulala.

Di atas panggung, mereka mengaku sang hero batman. Padahal di belakang panggung, mereka sejatinya adalah para pecundang kalongman. 

Buka dulu topengmu; kuingin tau kau ini Tuhan atau hantu.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia
Sumanto Al-Qurtuby


EmoticonEmoticon