Tuesday, 7 May 2019

Sejarah Komplek Makam Hoo Tjien Siong (Zing Zong)

Makam saudagar Cina bernama Ho Tjien Siong yang terletak di Dusun Kaso Gunung, Desa Doro, Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan adalah seorang pengusaha kaya yang mempunyai pabrik es batu dan limun yang bermerk dagang "Dua Merpati" (Dua Doro, lidah jawa).

Bangunan mausoleum berupa makam itu terlihat masih kokoh dan terawat. Bila disimak selintas, arsitektur bangunan makam yang dikenal sebagai kompleks Makam Hoo Tjien Siong ini arsitekturnya bergaya paduan antara Cina dan Belanda. Warna bangunan didominasi putih dengan pagar beton yang juga berwarna putih.
Tercatat dalam dokumen Koran Des Indische, 20 Juli 1929. Mausoleum ini dibuat oleh Ir. Han Tiauw Tjong untuk mertuanya yang bernama Hoo Tjien Siong (tinggalnya di Kedungwuni Pekalongan, nanti saya akan fotokan rumahnya). Bangunan ini selesai dibangun tahun 1929 atau satu tahun sebelum Hoo Tjien Siong meninggal, dikerjakan oleh seorang arsitek berkebangsaan Italia yang bernama G. Racina.

Menurut kesaksian sejarah para orangtua, jasad Hoo Tjien Siong diawetkan dan disemayamkan pada kotak kaca tebal, namun jasad beliau saat ini sudah dipindahkan ke Semarang oleh para ahli warisnya termasuk batu marmer dan benda berharga lainnya.

Berdasarkan data dari Pemkab Pekalongan tentang Inventarisasi dan Dokumentasi Sumber Sejarah Budaya Lokal disebutkan bahwa kompleks makam ini menempati lahan seluas 1.500 meter persegi dengan luas bangunan 568,85 meter persegi.
Ahli waris kompleks makam yang berada di Dusun Kaso Gunung, Desa Doro, Kecamatan Doro itu? Sesuai data yang tercatat, pemilik atau pewaris makam ini adalah Ir. Han Aylie M.Eng.


Secara gambaran umum tentang kondisi fisik bangunan, makam ini berpagar kawat dengan ukuran 27,7 meter, lebar 24,5 meter, dan tinggi mencapai 5 meter. Bentuk pagar yang terdiri dari kawat itu dibuat dengan model anyaman berbentuk bujur sangkar kecil-kecil dengan dilengkapi bangunan dari tembok beton. Sementara bangunan kuncup ditopang oleh 24 pilar yang semuanya dilapisi marmer. Boleh jadi, di zamannya bangunan tergolong megah dan membutuhkan 137 pekerja yang pembangunannya dibawah pengawasan dari seorang ahli arsitektur. Tiang atau penyangga dari beton itu di antaranya empat tiang terdapat pada undakan (tangga) bagian atas, sedangkan undakan bagian bawah terdapat 20 pilar penyangga. Bangunan kuncup yang lebih menyentuh gaya arsitektur Cina memunyai ukuran panjang 10,3 meter, lebar 10,3 meter, dan memiliki ketinggian tujuh meter. Untuk bangunan pagar memang ditemukan beberapa ornamen khas Cina, seperti gambar flora serupa bunga-bungaan. Dan, pada bangunan pagar ini, di bagian sudutnya terdapat bangunan berbentuk menara.

Oleh : Kang Obek
Referensi dari : Arief Dirhamsyah (Sejarawan Pekalongan) dan berbagai sumber.


EmoticonEmoticon