Sunday, 12 May 2019

Ungkapan "Penggal Kepalanya Jokowi"

Judul di saya kutip dari video yang viral, berasal dari kerumunan demonstrasi di KPU hari Jumat lalu. Pernyataan itu tidak hanya enteng bagi yang menuturkan, melainkan juga seakan-akan merupakan seolah hal yang biasa. Di sini, nama Jokowi di tempatkan seolah-olah sebagai musuh lamanya yang harus dilenyapkan. Posisi Jokowi dilihat bukan semata-mata orang nomor satu Indonesia, melainkan orang yang seakan tidak pantas untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Ungkapan itu adalah fenomena gunung es, di mana Jokowi melalui serangan hoaks dan fitnah begitu sangat dihinakan dan direndahkan sehingga seakan-akan pantas kepalanya untuk dipenggal. Pertanyaannya, mengapa orang begitu tidak suka kepada Jokowi sementara dia telah melakukan sejumlah kerja keras untuk bangsa dan negaranya melalui pembangunan infrastruktur? Ironisnya, ketidaksukaannya ini dilampiaskan dengan sangat tidak pantas dan dengan ucapan kekerasan verbal kepada orang nomor satu di Indonesia.

Ada tiga hal menurut saya mengapa kemudian Jokowi begitu dipandang hina bagi mereka yang tidak pernah menganggap Jokowi sebagai presiden sekaligus juga manusia Indonesia sepertinya. Pertama, Jokowi bukan dari kelompok elit kekuasaan dan oligarki. Posisi Jokowi yang berasal dari kelas sosial dari kebanyakan masyarakat Indonesia merupakan bentuk anomali di tengah mengakarnya elit dan kelas di Indonesia. Kehadirannya, dengan demikian, dianggap sebagai bentuk penentangan arus yang selama ini berlangsung.

Kedua, mentalitas rasisme. Karena dianggap bukan bagian dari elit dan dari segi penampilan adalah biasa. Orang melihat Jokowi dengan kacamata rasisme dengan mengolok-olok wajahnya, bentuk badannya, dan kulitnya. Di beberapa daerah sikap rasisme terhadap Jokowi begitu kentara. Akibatnya ejekan demi ejekan kepadanya menjadi representasi ungkapan dari rasisme tersebut.

Meskipun harus diakui, dominasi Jawa menjadi presiden Indonesia selama ini sekaligus banyaknya populasi etnik ini tersebar di wilayah Indonesia faktor transmigrasi serta warisan rejim Orde Baru yang melakukan sentralisasi ekonomi dan infrastruktur di pulau Jawa membentuk stereotip negatif di luar Jawa. Namun, penampilan Jokowi yang merepresentasikan kebanyakan masyarakat Indonesia menjadi faktor yang kuat mengapa rasisme kepadanya jauh lebih kuat.

Dua faktor tersebut berimplikasi kepada faktor ketiga, yaitu mudahnya politik sirkulasi fitnah dan hoaks dijalankan untuk mendelegitimasi Jokowi di tengah pertumbuhan pengguna media sosial yang semakin massif. Akibatnya, bagi mereka Jokowi bukan hanya orang yang tidak pantas menjadi presiden, melainkan juga sosok yang sangat hina di mata mereka. Dengan demikian, "ucapan memenggal kepala Jokowi" itu menempatkan Jokowi bukan sebagai presiden, melainkan orang sangat hina dan dibenci yang membuatnya marah.

Karena penghinaan kepadanya terus dilakukan dan reproduksi melalui WhatsApp grup dengan hoaks dan fitnah, tindakan negativitas tersebut menjadi seolah-olah biasa dan sudah seharusnya. Di sini, ucapan kebencian dan rasisme menjadi semacam banalitas kejahatan. Ironisnya, atas nama kebebasan dan demokrasi, saat ada upaya penegakan regulasi perihal ini dianggap bertentangan dengan kebebasan sipil oleh sejumlah aktivis dengan menganggap rejim Jokowi sedang kembali seperti rejim otoriter Orde Baru.

Membayangkan kebebasan berpendapat di tangan orang-orang semacam ini justru membuka peluang kepada masyarakat otoriter dengan agama sebagai pintu masuk. Sikap ini mau tidak mau membuat semacam pengkondisian mengenai imajinasi orang kuat untuk memimpin Indonesia, di mana bagi mereka Prabowo merupakan pilihannya.

Persis di sini dilema itu terjadi. Menempatkan kasus perkasus bagaimana peristiwa akumulasi kebencian itu terjadi sekaligus menghukum secara sosial tindakan tersebut merupakan langkah sementara yang bisa kita lakukan. Sekaligus melihat secara proporsional mengapa ada orang-orang yang kemudian ditangkap oleh polisi. Jika tidak, Jokowi justru bisa merefleksikan pengkondisian tersebut dengan menempatkan dirinya sebagai orang kuat sebagaimana diimajinasikan tersebut.

Wahyudi Akmaliah


EmoticonEmoticon